Deddy Mizwar Mencalonkan Diri Sebagai Presiden

Selasa, 24 Februari 2009 | 18:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Aktor  senior sekaligus sutradara Deddy Mizwar mantap mengajukan diri sebagai calon presiden. "Harus ada calon presiden alternatif, selain calon-calon dari partai besar yang itu-itu saja," kata Deddy, saat dihubungi Tempo, Selasa (24/2).

Deddy merasa yakin dapat memenangkan pemilihan presiden. Sikapnya untuk maju sebagai calon presiden, menurut Deddy, akan mampu mendongkrak perolehan suara partai-partai kecil yang mendukungnya. "Jika didukung sepuluh partai yang masing-masing mendapat 2,5 persen suara, maka sudah 25 persen suara yang terkumpul," ujar dia.

Terkait pemilihan presiden, pemeran Nagabonar ini memprotes keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak calon presiden independen dan menetapkan batas presidential threshold sebesar 20 persen. "Sistem yang diciptakan oleh partai berkuasa ini menguntungkan partai besar," kata Deddy, yang mengaku justru tak berharap dicalonkan oleh partai-partai yang sudah mapan.     

Jika terpilih menjadi presiden, Deddy siap meninggalkan dunia akting. "Saatnya Jendral Nagabonar memimpin," ujar dia, sambil tertawa.

Hingga saat ini, menurut Uncu Natsir, Ketua Tim Sukses Deddy Mizwar, setidaknya ada 9 partai yang telah mencalonkan Deddy. Mereka adalah Partai Persatuan Nahdatul Umat Indonesia, Partai Merdeka, Partai Buruh, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Kedaulatan, Partai Pemuda Indonesia, Partai Persatuan Daerah, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, dan Partai Sarikat Indonesia.

"Semuanya masih dalam pematangan. Para pemimpin partai itu sedang berproses di dalam," ujar  Uncu. Menurut dia, Deddy diuntungkan dengan adanya banyak partai kecil yang belum mempunyai calon presiden sehingga diharapkan dapat melakukan koalisi antar partai.

"Pencalonan Deddy telah melalui kajian selama satu tahun," kata Uncu. Pencalonan secara resmi, ia melanjutkan, akan dilaksanakan pada Jumat, 27 Februari 2009, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

FAMEGA SYAVIRA

Info Grafis

  • Pecah Kongsi SBY-JK

    Isu pecah kongsi Yudhoyono-Kalla kian kencang setelah mendapat “umpan” pernyataan Achmad Mubarok

  • Pasang-Surut Yudhoyono-Kalla

    Menjelang pemilu ini pasangan Yudhoyono- Kalla belum dipastikan berpasangan.
    Sinyalemen berpasangan kerap dilontarkan, namun hubungan di antara keduanya sering panas-dingin.

  • Kalla Serang Balik Akbar

    Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla kembali menegaskan bahwa Golkar tak perlu menggelar konvensi seperti sebelumnya.

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda [7] :

  • Dukung terus bang dedy

    Setelah menilik kata-kata bang Dedy di salah satu stasiun tv swasta (ya iyalah yang nggak swasta sudah jarang yg nonton) yaitu kurang lebih "biarpun masjid-masjid banyak didirikan tetapi sistemnya tetap begini saja Indonesia akan tetap begini-begini saja(bila salah mohon dimaafkan)" memang benar yang jadi masalah sekarang bukan siapa presidenya, namun apa sistem pemerintahanya, karena......(kalo dilanjutkan bisa panjang). salut buat bang dedy mizwar berjuang terus, saya doakan semoga berhasil!!!!

  • Setuju enggggggak setuju

    setuju karena emank figur beliau bagus......namun saya rasa alangkah baiknya jika urusan politik jangan dicampur dengan urusan artis...

  • Selamat berjuang bang naga!

    Setuju buanget Bang Deddy "Nagabonar" Mizwar nyalon jadi Presiden RI. Percayalah, bangsa kita membutuhkan orang seperti beliau untuk memimpin bangsa ini keluar dari keserbarancuan ini. TAHNIAH.
    (Oya, mau tau lebih banyak tentang Bang Deddy, buka www.nagabonar-for-president.blogspot.com)

  • Setuju

    saya sebagai calon artis, setuju buanget! semoga keinginan saya untuk ikut merasakan jika bang dedi sukses tercapai. ariel peterpsn

  • Gak tahu ya...............!!!!!

    Aku dukung banget Dedy Mizwar,tapidengan catetan mau menegakkan syariat islam, jika tidak ya,,,, gak jadi dukung dech....

1 2
Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan