Golkar dan PDI Perjuangan akan Berbagi Kekuasaan

Kamis, 23 April 2009 | 22:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Petinggi Golkar dan PDI Perjuangan akan membahas detail pembagian kekuasaan pada  Jumat (24/4) malam, di Jalan Teuku Umar Nomor  27, Jakarta Pusat. Malam ini, petinggi kedua partai telah sepakat untuk bekerja sama menjelang pemilihan  presiden 8 Juli mendatang.

"Persetujuannya adalah untuk membina kesatuan, bekerja bersama-sama, bermitra atau berkoalisi apa pun (istilahnya), tapi teknisnya akan dibicarakan lebih lanjut. Framenya sudah kami bicarakan,  namun isi framenya yang akan dibicarakan lebih lanjut," kata Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, dalam jumpa pers, seusai bertemu sejumlah pengurus pusat PDI Perjuangan, di Pos Komando Golkar,  di Jalan Ki Mangun Sarkoro Nomor 1, Kamis (23/4) malam.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan, Taufik Kiemas, yang  menemui Kalla didampingi anaknya, Puan Maharani, serta sejumlah pengurus pusat., menyatakan hal serupa.  "Baru saja kami mengadakan pertemuan dalam rangka menata kebersamaan kami ke depan menghadapi pemilu presiden  untuk membangun pemerintahan yang kuat sesuai cita-cita ke depan," ujar Kiemas.

Kiemas membenarkan bahwa Kalla akan bertandang ke rumahnya,  Jumat malam besok  dan bertemu dengan istrinya, pada pukul 19.30 WIB. Rencananya, kedua tokoh akan membahas soal koalisi pemilu presiden yang dilakukan secara tertutup.

"Besok Pak JK akan datang ke rumah kami dan akan kami antar supaya Ketua Umum Golkar dan PDI Perjuangan bisa berbicara berdua saja, hati ke hati. Sampai permasalahan bisa diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya," kata KIemas.

Kalla menambahkan,  persoalan pembagian calon presiden maupun wakil presiden akan dibahas di rumah Mega. "Besok summit meeting, pertemuan puncak. Pertemuan teknis," ujarnya.

Namun, Kiemas  enggan mengungkap rencana pembagian kekuasaan dalam koalisi. Dia menyerahkan persoalan teknis itu pada istrinya, yang pernah menjabat presiden itu. "Masa saya musti bicara soal tempat Pak Jusuf Kalla, sangat tidak pantas sekali," katanya.

KURNIASIH BUDI | DWI RIYANTO

  • Share on Facebook
  • Send
  • Print

Komentar (3)

    Kalau JK maju sebagai wapresnya Megawati, rupanya inilah yang namanya harga diri Golkar yang didengung-dengungkan yaitu menjadi spesialis wakil presiden. Kasihan ya Pak JK itu.

    Bahayanya kalau Ibu Mega menjadi Presiden maka Yusril Mahendra dan Akbar Tanjung akan diangkat jadi mentteri lagi.

    Saya bukan simpatisan Golkar maupun Demokrat, namun saya berpendapat bahwa yang namanya kerjasama atau koalisi ya semua negosiasi harus didasarkan pada anggapan bahwa masing-masing sederajat. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak bisa kalau salah satu pihak menganggap dirinya lebih super daripada pihak yang lain. Kecuali kalau itu bukan koalisi, tetapi "mengabdi dan menghambakan diri"!!!

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan