Bisnis Konstruksi Afrika Utara-Timur Tengah Terkendala Modal

Kamis, 16 April 2009 | 17:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Peluang bisnis jasa konstruksi di Afrika dan Timur tengah cukup menjanjikan. Namun sayangnya masih terkendala jaminan hukum dan modal pendukung. Menurut Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia Departemen Pekerjaan Umum Sumaryanto Widayatin dalam lima tahun ke depan pasar di beberapa negara Timur Tengah mencapai lebih dari US$ 1 triliun.

Dia mencontohkan di Uni Emirat Arab peluangnya mencapai US$294 miliar, Kuwait (US$ 211 miliar), Saudi Arabia (US$201 miliar), Qatar (US$115 miliar), Iran (US$97 miliar), Oman (US$33 miliar), Bahrain (US$ 27 miliar), Irak (US$150 miliar), dan dan Palestina US$ 7,7 miliar. "Karena ada rencana rebuild Irak dan Palestina, Indonesia berpeluang besar," ujar Sumaryanto di Kantornya, Kamis (16/4).

Dia mencontohkan, saat ini Citra Megah Karya Gemilang mendapatkan pekerjaan pracetak baja senilai US$1,8 miliar. Wijaya Karya dan Adhi Karya pun telah mendapatkan proyek di kawasan tersebut. Namun Sumaryanto belum bersedia mengungkapkannya. 

Terkait kendala yang menghadang, dia menyebut antara lain permodalan dan kemudahan kredit dari perbankan. Bank sentral, kata Sumaryanto, belum memberi izin bank selain Bank Ekspor Impor sehingga biaya koresponden bank bisa mencapai 3 kali lipatnya. Hal ini berbeda dengan kebijakan Jepang dan Korea yang memberi kemudahan kredit konstruksi di luar negeri.

DIAN YULIASTUTI

  • Share on Facebook
  • Send
  • Print
Topik :

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan