close

Salah Blokir, Depkominfo Minta Maaf

Senin, 23 November 2009 | 17:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pejabat Departemen Komunikasi dan Informatika meminta maaf kepada para pengguna blog (buku harian di dunia maya) atas kesalahan pemblokiran yang terjadi Senin (23/11) ini. Seharusnya pemerintah memblokir situs yang mengandung Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA).

Gatot Dewa Brata, juru bicara Depkominfo menegaskan, pihaknya meminta maaf jika ada pengguna blog yang terganggu akibat pemblokiran hari ini. Depkominfo sudah berbicara dengan 10 penyedia layanan Internet atau Internet Service Provider (ISP) untuk mengoreksi dan melakukan revisi ulang hari ini.

”Bukan maksud pemerintah memblok semua (blog), mohon dicermati secara cerdas. Tujuan pemerintah adalah kartun yang menghina Nabi, kasusnya sama seperti kasus Youtube dulu,” katanya. ”Kalau ada efek sampinganya kami mohon maaf.”

Menteri Komunikasi dan Informatika Taifatul Sembiring pun sudah mendengar kabar tentang protes para blogger (pengguna blog). ”Saya sudah baca di Twitter (salah satu situs jejaring sosial) hari ini banyak protes,” ujarnya di sela rapat dengar pendapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Senin (23/11).

Perintah pemblokiran itu secara tertulis namun disposisinya terbatas agar tidak menghalangi akses para penggunanya. Ia sudah menginstruksikan untuk melakukan koreksi pemblokiran. "Jadi itu akan kami koreksi, karena instruksi saya URL-nya saja, tidak masuk pada pelebaran blognya itu,” katanya.

”Namanya kita memberikan instruksi ke bawah. Ditutupnya 2 mili tapi yang terjadi 7 mili . Yang mem-blokir  operator bukan Depkominfo. Akan dikoreksi hari ini juga,” tuturnya.

Roy Suryo, anggota Komisi Politik, Keamanan, Politik, Luar Negeri, dan Komunikasi dan Informatika, mendukung pemblokiran yang dilakukan Depkominfo terhadap situs yang menghina Nabi pada hari ini. ”Soal pemblokiran jangan sampai yang diblokir A tapi kena ABCD. Yang diblokir itu harus melalui pertimbangan detail dan teknikal,” ucapnya.

Ia menyatakan, jangan sampai blogger semua terkena pemblokiran oleh pemerintah yang ingin memblokir satu situs. ”Kalau memang semuanya kena itu salah. Mungkin ini terjadi karena kebijakan teknik di lapangan yang salah,” ujarnya.

Roy menambahkan, ”Sampai saat ini belum ada aturan petunjuk pelaksana dan petunjuk teknisnya soal pemblokiran, sementara hanya subjektif dari menteri saja. Saya mendesak supaya peraturan pemerintah segera keluar, jangan sampai merugikan semua pihak.”

ALWAN RIDHA RAMDANI

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [8] :

  • Lagi-lagi cara otoriter diterapkan pemerintah

    Boss, sebelum melakukan pemblokiran blog, tolong dong diumumkan dulu, blog apa, siapa, kenapa akan diblokir, kapan diblokir. Jangan lupa minta keputusan pengadilan yang pasti tentang pemblokiran itu, jangan main asal blokir semau-gue ya. Kalau soal keputusan hukum dari pengadilan bertele-tele, itu kan urusan si pengadilan yang mungkin minta agar pemblokiran ini diurus oleh si Markus.

    Kalau sudah ada keputusan pengadilan, baru bloking dilakukan, dan kalau salah blokir bukan hanya minta maaf, tapi harus bayar kompensasi kerugian.
    UU-nya harus memberi kesempatan pembayaran kompensasi, jadi Ente nggak asal potong kambing. . . gitu yeeee

    Itu si RS juga kudu belajar lagi, jangan asal setuju

  • Re: dasar bego

    @ Ahmad: Kalo lu yg jadi menkominfo kira2 gimana?
    Mgkn keadaan bisa jauh lbh baik ya. Lu kan nggak ber jenggot. Tapi sayang, sekedar nggak ber jenggot aja, bukan jaminan. Mungkin lu nggak ber jenggot tapi ber otak kambing.

  • Jangan sentimen

    Kesalahan P. Tifatul adalah kesalahan yg manusiawi, jadi jangan terlalu di besar besarkan lah. kok komentar2 nya sangat sentimen ya ?
    ( saya bukan pendukung PKS, tapi yang fair dong )

  • Obsesi tuch??

    ho ho ho.. koflok sekale seh mas T Sembiring ini.... mending blokir tuh pakar PORNOMATIKA mas Roy Suryo yg jago analisis BOKEP2 artis.... Roy sama pak Tifatul jangan2 sebelas duabelas nih????

  • Fasis

    FASIS..FASIS..FASIS !!!!

1 2
Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan