close

Keseimbangan Legong-Bedaya

Minggu, 23 April 2006 | 16:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Gedebuk kendang Bali I Gusti Kompyang Raka, menggedor-gedor di antara ledakan kecer Bali, yang diiringi lantunan gamelan Jawa, menghantarkan sebuah komposisi perang.

Perpaduan gamelan Jawa dan gamelan Bali, menjadi musik latar dari 'peperangan' antara para penari legong Bali dengan penari Bedhaya Jawa, di panggung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Sabtu dan Minggu malam.

Di dua kesempatan itu, dua penari kawakan, Retno Maruti dan Bulantrisna Djelantik mengarsiteki sebuah kolaborasi antara tari Bedaya dan Legong yang mengangkat kisah Calonarang. Legenda itu sendiri, terjadi di masa Raja Erlangga dari Kerajaan Kediri, sekitar abad 11.

Calonarang adalah seorang tokoh yang dikucilkan karena dituduh menebar teluh ke tengah masyarakat. Kemudian, Raja Erlangga memerintahkan Empu Barada untuk memerangi Calonarang. Ia meminta kepada Bahula untuk mengawini Ratna Manggali, putri Calonarang, untuk mengorek kelemahan Calonarang.

Setelah menikah, Bahula merayu Ratna Mangggali untuk mencuri lontar yang menjadi senjata pusaka Calonarang. Dan peperangan antara pasukan Calonarang dan Mpu Barada tak terhindarkan. Kisah ini adalah kisah yang sangat populer di masyarakat Bali.

Indra Darmawan

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan