close

Kembalinya Si Nagabonar

Jum'at, 01 Desember 2006 | 16:26 WIB

Nagabonar hadir lagi. Kali ini dia membawa anak satu-satunya yang hidup (dari empat anaknya), Bonaga, dalam film Nagabonar Jadi 2. Ini sekuel dari film Nagabonar karya Asrul Sani yang diproduksi pada 1986.

Film ini disutradarai Deddy Mizwar, pemeran Nagabonar dalam dua film tersebut. Dengan penulis naskah Musfar Yasin, penulis skenario terbaik Festival Sinetron Indonesia 2005 dan Festival Film Indonesia 2005, Deddy Mizwar optimistis film baru ini tak kalah menariknya dengan karya Asrul Sani.

Dikemas dalam bentuk drama komedi satire, Nagabonar Jadi 2 sarat akan pesan moral mengenai persahabatan, cinta, dan perbedaan (dialog antara dua generasi). Film produksi PT Bumi Prasidi Bi-Epsi dan PT Demi Gisela Citra Sinema ini didedikasikan kepada almarhum Asrul Sani, budayawan yang menciptakan tokoh Nagabonar.

Nagabonar memiliki cerita yang berbeda dengan Nagabonar Jadi 2. Nagabonar film komedi situasi berlatar peristiwa perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda di daerah Sumatera Utara. Nagabonar adalah seorang pencopet yang mendapat kesempatan menyebut dirinya Jenderal. Namun, pada akhirnya dia menjadi tentara yang sesungguhnya dan memimpin kemenangan Indonesia dalam peperangan.

Sedangkan Nagabonar Jadi 2 adalah cerita Nagabonar yang ditarik ke masa kini. Ini ditunjukkan dengan Bonaga (Tora Sudiro) yang lulusan luar negeri, berbeda dengan bapaknya yang tak bisa baca-tulis. Dia memiliki naluri bisnis yang tinggi dan berjiwa pemimpin. Konflik utama film ini adalah ketika Bonaga berniat menjual kebun sawit bapaknya di kampung halaman.

Sang bapak sangat kecewa lantaran di situ terdapat kuburan tiga orang yang dicintainya: Kirana (istrinya), maknya, dan sahabatnya, Si Bujang.

Proses syuting film yang diperkirakan menelan biaya produksi sekitar Rp 7 miliar itu telah selesai dilakukan di Malimping, Sukabumi, Jawa Barat, selama hampir sebulan. Lokasi yang berbukit-bukit dinilai mirip/mewakili tanah Batak, kampung halaman Nagabonar.

Retno Sulistyowati

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [1] :

  • Nikmatnya sebuah karya bagi pelakunya

    sebagai soerang seniman yang sedang berproses seakan seperti itu, yang di harapkan serta diimpikan untuk menjadi pelaku seni, dan itu semua bisa kita nikmati di era sekarang ini khususnya kami yang sedang berada di alurnya, pasti bercita cita ingin seperti Drs Asrul sani selaku pekerja seni yang telah memberikan karyanya kepada bangsa Indonesia agar masyarakatnya tidak selalu menjadi manusia yang selalu di bodohi oleh bangsa lain terlebih lagi oleh bangsa sendiri melainkan berprilaku seperti dalam semboyan bhineka tunggal Ika. Pokonya buat beliau good luck dan mudah mudahan kami bisa mengikutu jejak beliau.untuk naga bonar jadi 2 yang belum lama di produksi oleh Budiaty abiyoga dan deddy mizwar kalau boleh saya berkomentar sepertinya masih beraroma naga Bonar versi lama dan imbasnya sampai sekarang yang akhirnya masyarakat di ajak bernostalgi pada bang naga yang kocak,ditambah dengan rasa penasaran akting tora sudiro yang di kenal juga sebagai komedian dan mereka menikmatinya sebagai tontonan lawak tanpa memperhatikan karakter serta cita cita bang naga itu sendiri. jadi yang tolong harus sedikit di perhatikan lagi dari kebanyakannya adegan lawakan, sehingga nyaris hilang dari karakter jendral naga bonar.tapi buat para pelakunya dari serta all crew congratulation 4 u/.

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan