close

Laku Dua Perupa

Selasa, 09 Januari 2007 | 17:13 WIB

Dua laki-laki itu mengenakan baju hujan berwarna kuning menyala. Keduanya memegang patung kepala manusia yang mirip dengan wajah mereka. Saat yang dinanti pun tiba. Bak tukang jagal, pisau di tangan membelah kepala itu dengan sayatan melintang.

Saat kulit kepala yang terbuat dari resin dan karet silikon terlepas, mencuat gumpalan beku bahan makanan dalam berbagai warna. Dari belahan kepala yang lain muncul bahan beku dengan warna menyala.

Dua lelaki itu adalah Edi Prabandono, 42 tahun, dan Sigit Pius Kuncoro, 32 tahun. Mereka beraksi di ruang pamer Kedai Kebun Forum, 20 Desember lalu.

Edi menghangatkan bahan makanan beku tadi, yang berupa daging sapi, brokoli, jamur kuping, bawang putih, bawang bombai, lombok, dan merica. Ia menjadi seorang koki, menyiapkan masakan yang terinspirasi dari makanan Jepang, daitai.

Di sebelahnya, perupa Sigit meletakkan bahan yang berwarna menyala tadi pada alat tradisional penyerut es. Bongkahan es itu berubah menjadi serat-serat es yang tajam ketika tuas alat itu diputar. Es pun mulai mencair. Sigit siap menyajikan es buah dengan warna merah yang menggoda selera.

Inilah aksi seni pergelaran (performance art) dan pameran bertajuk "Circus Pengantin", yang secara nyata langsung bisa dinikmati. Pengunjung menyantap menu utama Campuro hasil olahan Edi dengan hidangan penutup es buah karya Sigit.

Selebihnya pengunjung mencoba menebak-nebak relasi gagasan dasar yang tertuang dalam artist statement dengan materi pameran yang dipajang di dinding ruang pamer hingga 15 Januari mendatang ini.

Dalam pernyataannya, dua perupa yang pernah kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengungkapkan, pada 2005, Kutub Utara mencair dengan menghasilkan 220 kilometer kubik air. Laut pun meluap dan tekanan membesar di kedalaman laut. Cuaca semakin ekstrem dan banjir merendam pesisir saat badai bergolak. "Jika hari ini hati kita merasa tertekan, sesungguhnya pertempuran sedang terjadi di kedalaman laut," tulis mereka.

Pertempuran apa? Tak jelas. Tapi di dinding ruang pamer disusun secara horizontal fotokopi teks Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Inilah undang-undang produk rezim Orde Baru dengan semangat antipoligami dan aturan kawin campur yang menyulut kontroversi kala itu. Kelompok Islam menentang karena bertentangan dengan ajaran Islam yang diyakini melegalkan poligami dan menolak kawin campur.

Di bawah teks itu ada mangkuk kecil berisi tunas bulir padi. Inikah simbol kontroversi yang pernah mencuat pada enam dekade lalu dan kini bertunas kembali ketika isu poligami menembus Istana Presiden setelah Aa Gym diam-diam menyunting istri kedua itu? Penonton hanya bisa menduga.

Pada dinding berikutnya berjejer foto pasangan manusia dewasa yang berbeda warna kulit dan ciri-ciri genetik. Tiap pasang dilengkapi sejumlah anak. "Kawin campur antarbangsa bukannya tanpa masalah," ujar Edi, yang menyunting seorang perempuan Jepang.

Di dinding ketiga menjulang lukisan bentuk pohon dalam warna monokrom dari bawah hingga bagian atas dinding. Secara visual mirip bonsai pohon beringin dengan bentuk melingkar-lingkar yang menggambarkan tiga strata. Di bagian tengah pohon menjulur anak tangga berhiaskan bentuk gapura tori, yang banyak ditemui di kuil Shinto, Jepang.

Pada strata terbawah, terhampar lanskap permukiman di pedesaan yang sederhana. Strata kedua berupa bentuk bangunan klasik Eropa. Sedangkan strata ketiga berupa hamparan hutan beton bangunan modern. Inikah gambaran versi lain pohon kehidupan? "Sesungguhnya kita sudah tak memiliki gagasan apa pun tentang kehidupan," tulis Sigit dan Edi.

Anehnya, pameran ini lebih suntuk menggarap gagasan tekstual yang liris, tapi mengabaikan eksplorasi idiom rupa.

RAIHUL FARDJRI

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan