Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Dongeng Natal
Rabu, 26 Desember 2007 | 12:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: "Suatu ketika di negeri antah berantah," ujar narator di awal film mempertegas bahwa ini adalah film fiksi. Sesosok bayi mungil lahir dengan tubuh yang sangat gemuk. Bukannya menangis, kata pertama yang keluar dari mulut bayi, yang kelak dinamai Nicholas Claus (diperankan oleh Paul Giamatti), itu adalah, "Ho-ho."

Itu adalah awal kisah film berjudul Fred Claus produksi Warner Bros Pictures. Film bergenre drama komedi ini berkisah tentang kehidupan Sinterklas atau Santa Claus Nicholas alias Nick. Di masa kanak-kanak, Nick sangat disayang oleh ibunya karena sifatnya yang mirip santo atau orang kudus.

Hal itu kontan memancing kecemburuan sang kakak, Fred Claus (Vince Vaughn). Ini terjadi, misalnya ketika Nick muncul dari lubang perapian rumahnya karena pintu rumahnya terkunci. Kontan Fred menceletuk, "Kenapa tidak mengetuk pintu?" Namun, oleh sang ibu (Kathy Bates), Nick malah dibela. "Itu berarti ia inovatif," ujarnya. Masa kanak-kanak Nick dan Fred itu menjadi latar belakang film berdurasi 116 menit ini.

Setting film ini langsung berpindah ke salah satu sudut Kota New York ketika Fred sudah dewasa. Ia hidup di apartemen dan sering didatangi seorang anak yatim piatu bernama Samuel Gibbons (Bobb'e J. Thompson). Mereka layaknya teman akrab, sering berbagi cerita, termasuk soal Natal dan Sinterklas. "Sinterklas itu orang yang bodoh, pecandu, maniak, dan terbang dengan reindeer di atas kota hanya untuk mencari perhatian," ujarnya.

Suatu ketika, Fred punya rencana membuka bisnis rumah judi tepat di depan kantor bursa saham. Ia berencana menyewa tempat itu senilai US$ 50 ribu, tapi tidak punya uang. Konflik mulai muncul dalam usaha Fred mencari uang itu. Ia menyamar sebagai Sinterklas yang meminta sumbangan di tepi jalan. Kontan hal itu memancing keributan karena Sinterklas lain memiliki izin untuk melakukan hal itu, sedangkan ia tidak.

Fred kemudian dijebloskan ke penjara setelah melewati adegan kejar-kejaran di mal dan bahkan berkelahi. Ia berusaha menghubungi pacarnya, Wanda (Rachel Weisz), untuk mendapatkan uang tebusan, tapi tidak berhasil. Pilihan terakhirnya, Fred menghubungi Nick yang menetap di Kutub Utara dan "berprofesi" sebagai Sinterklas.

Bukan hanya meminta uang tebusan US$ 5.000, Fred juga meminta Nick meminjamkan US$ 50 ribu sebelum tanggal terakhir penawaran menyewa toko tersebut. Nick menawarkan agar Fred datang ke rumahnya. Di saat Fred bersiap, muncul sosok manusia kerdil, yang disebut elf, bernama Willie (John Michael Higgins), dari jendela apartemennya. Oleh Willie ia dibawa terbang menggunakan kereta rusa. "Saya takut terbang," ujar Fred.

Kehadiran Fred di Kutub Utara membawa konflik baru lagi. Tanggung jawabnya untuk menstempel kriteria anak-anak yang harus mendapatkan hadiah tidak dijalankan dengan baik. Belum lagi, ia menyetel lagu rock mengganti lagu Here Come Santa Claus yang memang diputar berulang-ulang di dalam pabrik hadiah. Kelakuannya itu memperburuk kondisi perusahaan hadiah Nick yang sedang diawasi oleh perwakilannya, Clyde Nurthcut (Kevin Spacey).

Film yang memang dirilis menjelang liburan Natal ini dinilai mampu menjadi hiburan tersendiri. Selain lagu-lagu Natal yang menjadi soundtrack-nya, adegan-adegan lucu sepanjang film mampu membuat penonton tertawa. "Saya barusan menonton 8 film dalam 72 jam, tapi inilah film yang layak untuk uang yang kita bayar," kata seorang penonton, Jane Jarsonbeck, di situs resmi database film. Situs The Austin Chronicle memuji film ini karena banyaknya adegan lucu sejak awal film.

Walau mendapat pujian, film yang disutradarai oleh David Dobkin ini juga tak luput dari kritik. Philadelphia Weekly menuliskan bahwa film ini memiliki plot yang bertele-tele dan desain produksi yang paling jelek tahun ini. "Film anak-anak yang baik adalah yang simpel, tapi film ini rumit," ujar Sean Burns, si wartawan. Satu-satunya pesan yang tersampaikan secara samar-samar, kata Sean, adalah pesan bahwa Natal itu membawa kebaikan.

Film yang dirilis di Amerika pada pertengahan November ini berhasil meraup US$ 18,5 juta (sekitar Rp 175 miliar) pada pekan pertama pemutarannya. Di Inggris, film ini meraup 1,93 juta pound sterling (sekitar Rp 37 miliar) dan sempat menduduki peringkat pertama selama sepekan sebelum didepak oleh film The Golden Compass.

TITO SIANIPAR

Judul: Fred Claus
Genre: Drama komedi
Sutradara: David Dobkin
Produser: David Dobkin, Paul Hitchcock, Jessie Nelson, Joel Silver, Vince Vaughn
Penulis: Dan Fogelman dan Jessie Nelson
Pemain: Vince Vaughn, Paul Giamatti,
Distribusi: Warner Bros Pictures
Durasi: 116 menit


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk114109 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Suara NU ke Pasangan Karsa, Perempuan ke Kaji
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi
Industri Mulai Geser Hari Kerja
Pemerintah Siapkan Dana Cadangan untuk PLN
Industri Gugat PLN Jika Tarif Dinaikkan

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data