Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Labirin Perang
Rabu, 05 Maret 2008 | 18:48 WIB

TEMPO Interaktif, Ubud: Lampu-lampu neon tertata di lantai Gaya Gallery, Ubud, membentuk sebuah labirin. Cahaya kebiruannya menciptakan suasana yang gamang. Semua orang mesti berhati-hati menyusuri lorong-lorong imajiner tanpa ujung pangkal itu.

Memindahkan perang sebagai sebuah instalasi seni dalam ruang yang terbatas, begitulah obsesi dua perupa, Hamad Kalaf dan Iswanto, yang berkolaborasi dalam pameran yang digelar pada 16 Februari hingga 16 Maret mendatang.

Hamad adalah seniman asal Kuwait yang sempat mengalami suasana mencekam, saat Irak menyerbu Kuwait pada 1990-an. Adapun Iswanto, sebelum menjadi seniman, bergelut dalam dunia rekayasa ruang dalam profesinya sebagai seorang arsitek.

Karya-karya Hamad terangkai dalam tema "Act of War". Dia membuat citra-citra perang dalam mitologi Yunani, seperti gambaran dewa-dewi, prajurit Argonot, dan minotaur (manusia berkepala banteng).

Uniknya, selain medium yang sudah umum, dia melukiskannya di helm dan sepatu milik tentara Irak serta benda-benda sisa perang lainnya. Semua dikumpulkannya langsung dari lokasi perang yang sebenarnya. Ada pula yang ditorehkan pada pecahan tembikar akibat bom Kuta yang berserakan dalam sebuah meja kaca.

Lalu apa kaitan karya itu dengan instalasi Iswanto? "Dia menciptakan totalitas ruang dan suasana untuk menikmati karya saya," ujar Hamad.

Bagi dia, perang adalah sebuah tempat yang penuh dengan ranjau, jebakan, dan pengintaian dari pihak lawan. Seseorang mesti berhati-hati mengayunkan langkah, bahkan harus menyusun strategi sebelum berada di sana. Di pameran ini, dalam suasana remang-remang tersebut, tanpa kehati-hatian, penikmat karyanya akan terjerat oleh kabel atau bahkan menginjak lampu neon.

Hamad merasa menemukan hal baru dengan kolaborasi itu karena pesan bukan lagi hal yang penting. Mengalami dan merasakan suasana perang jauh lebih berharga. Instalasi Iswanto menyempurnakan keinginannya untuk menciptakan kesan bahwa selain kengerian, perang memiliki pesonanya sendiri.

Bagi Iswanto, kolaborasi tersebut memberinya pengalaman baru karena selama ini dia sendiri yang menciptakan obyek seni serta merekayasa ruangnya. Untungnya, dialog dengan Hamad berlangsung terbuka sehingga keduanya tidak harus saling mengorbankan idealisme.

Tema perang juga bukan hal yang baru bagi peraih Freeman Asian Award 2003-2004 dari Freeman Foundation, Amerika Serikat, ini. Sebelumnya, Iswanto pernah membuat instalasi kerangka pesawat pengintai Stealth yang ditempatkan dalam sebuah ruang khusus.

Dalam mitos Yunani, menurut Rifky Effendi, kurator dalam pameran ini, labirin sejatinya adalah sebuah taktik perang. Itu berupa struktur ruang berbentuk lorong yang bercabang banyak dan rumit. Taktik ini dibangun untuk King Minos of Crete oleh Daedalus untuk menahan musuhnya, minotaur.

Bagi kedua perupa, labirin yang mempertemukan mereka merupakan metafora yang melambangkan pencarian nilai-nilai dalam budaya perang. l ROFIQI HASAN


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk118671 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Menabrak Pakem Seni Trimatra
Sophan Meninggal Dalam Perjalanan Ke Rumah Sakit
Sophan Sophian Ingin Jadi Duta Besar
Keluarga Sudah Menerima Kabar Sophan Sophian Meninggal
Soetrisno Bachir Keliling Jawa Tengah

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data