Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kanvas Perang
Jum'at, 28 Maret 2008 | 15:32 WIB

TEMPO Interaktif, : Lukisan itu seakan ketumpahan darah. Warna merah pekat yang menjadi latar seluruh kanvas menyiratkan sebuah pembantaian. Gambar yang tersirat memunculkan perasaan yang campur aduk. Marah, sedih, dan jengah menjadi perwakilan rasa akan sebuah peperangan.

Guratan-guratan cat minyak tersebut dapat dijumpai dalam pameran tunggal perupa Vasan Sitthiket bertajuk "Red Planet" di Galeri Nasional, Jakarta, pada 20-30 Maret 2008. Pameran ini memamerkan karya Sitthiket yang dibuatnya sejak 2003.

Ide lukisan perupa asal Thailand itu terlihat gamblang, yakni invasi Amerika Serikat terhadap Irak beberapa tahun lalu. Negeri Seribu Satu Malam ini luluh-lantak dibombardir Amerika hingga sang pemimpin, Saddam Husein, dihukum mati.

Peristiwa itu terwujud dalam lukisan bertajuk Stop War, Peace Now, dan Bomb for Liberty. Stop War dan Peace Now, kedua lukisan merah ini menggambarkan anak korban perang yang terbalut perban dan kedua tangannya buntung.

Sementara itu, dalam Bomb for Liberty, Sitthiket melukis kepala seorang pria yang terbungkus bendera Amerika dengan tali gantungan di lehernya. Umumnya latar lukisan-lukisan merah ini menceritakan kondisi kota di Irak yang hancur, serta tulisan yang bernada kontradiktif.

Karya-karya perupa yang sekaligus aktivis kemanusiaan itu juga mempersoalkan arti sebuah demokrasi. Hal yang sama tengah dibangun di Indonesia ataupun Thailand. Menurut dia, demokrasi sejati takkan pernah mampir. "Takkan ada (demokrasi), selama pemerintah masih mematuhi kebijakan Amerika," ujarnya dalam katalog.

Kurator pameran, Lola Lenzi menilai Red Planet dan Perang Irak karya Sitthiket memperkuat sebuah pesan yang menyakitkan. Semua orang, termasuk sang seniman sendiri, ikut menentukan nasib dunia. "Tanpa berkhotbah, karyanya menggugah moralitas pengamat serta mendorong mereka untuk menerima tanggung jawab dan segera bertindak," dia melanjutkan dalam katalog.

Tak hanya itu, jika menilik lukisan Sitthiket yang lain, ia seakan menunjuk pihak militer sebagai otak kriminal. Perasaan tersebut terwakili dalam lukisan yang berdasar kain denim bercorak loreng sebagai pengganti kanvas. Ia melukis korban-korban perang tanpa busana dengan tangan dan kaki terikat serta kepala ditutup.

Tengok saja lukisan bertajuk Forget You Not dan Get Out of Irak yang dibuat pada 2008. Gambarnya beragam bom dan nuklir. Juga tampang Presiden Amerika Serikat George W. Bush, yang tertuang dalam lukisan bertajuk In God We Bomb. Bush tengah menduduki kepala Sitthiket yang teraniaya.

Soal ukuran, tak tanggung-tanggung, Sitthiket menggunakan bahan berloreng sepanjang 1.000 x 168 sentimeter. Tanpa terputus, ia melukiskan tiga tema berjudul The USA, History, dan Shortcut. The Usa digambarkan dengan siluet korban perang yang telanjang bulat. History menggambarkan sejarah musuh Amerika yang menyalib suku indian, ras negroid, dan orang Arab. Adapun Shortcut dituangkan dalam lukisan dengan beragam wajah dan rudal.

Sejak 1976, Sitthiket kerap mengikuti pameran secara berkelompok ataupun tunggal. Perupa yang kini menetap di Bangkok juga pernah tampil di Jerman (1997) dan Switzerland (1998). l AGUSLIA HIDAYAH


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Cantik Luar-Dalam
Seni Rupa Jalanan
Palangkaraya Gelar Pameran Hari Museum Internasional
Dari Sampah sampai Polusi
Pesta Sketsa
Laku Dua Perupa
Ekspresi Wajah Zhao Nengzhi
Goresan Lima Serangkai
Pameran Kartun Internasional Digelar di Bali
Pahlawan Mungil
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120007 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data