Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kantata Paskah
Jum'at, 18 April 2008 | 13:35 WIB

TEMPO Interaktif, : Gelap menyergap ketika layar panggung tersibak. Organis Christina Mandang duduk membelakangi penonton di sisi kanan, memainkan nada-nada sendu sebagai pembuka kantata kisah sengsara Yesus. Tiga perempuan muncul dari sisi kiri panggung mengenakan pakaian panjang lengkap dengan kerudung mereka.

Selanjutnya, suara sopran Pricillya Carlla Souhuwat mengumandang, yang didramatisasi oleh daun kering jatuh dan berserakan. Pricillya, 21 tahun, menyanyikan kidung pengantar derita Yesus. Itulah penggalan awal pertunjukan Opera Kantata oleh Susvara Opera Company di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu malam lalu.

Mereka membawakan repertoar-repertoar klasik karya Theodore Dubois (1837-1924) dalam pementasan yang bertajuk "The Seven Last Words of Christ" dalam rangka perayaan Paskah.

Sebelum opera "The Seven Last Words of Christ" yang dibawakan secara massal oleh Susvara, yang berkolaborasi dengan Immanuel Chruch Choir, pada sesi awal terlebih dulu tampil solis-solis yang membawakan musikalisasi ayat-ayat Alkitab karya George Frideric Haendel (1685-1759), Felix Mendellssohn (1800-1847), dan Gioachino Rossini (1792-1868).

Berbagai gaya oratoria dibawakan dengan apik oleh sopranis Christine Lubis dan Novanda Bulu, tenoris Indra Listyanto, dan baritonis Indra Listyanto. Tak ketinggalan pula suara mezosopran Chatarina Leimena, yang salah satunya membawakan oratoria dari kitab Yesaya berbunyi "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan."

Kisah sengsara Yesus memang menjadi suguhan utama pementasan yang berlangsung selama sekitar dua jam ini. Opera "Tujuh Kata-kata Terakhir Yesus" ini dipentaskan dengan apik. Suara-suara nyaring para punggawa Susvara memang patut diacungi jempol. Tata lampu juga menggugah penonton mengucapkan pujian. Dekorasi panggung seakan memberi kehidupan pada oratoria ataupun opera. l TITO SIANIPAR


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Nada Karawitan
Pentas Toto Batal, Penggemar Marah
Improvisasi Wolfgang Muthspiel
Gelar Seni Mengenang Tsunami
Ratapan Minangkabau
Konser Jazz Willem Breuker
Eksplorasi Yann Tiersen
Musisi Klasik Keliling Indonesia
Resital Piano Christiaan Kuyvenhoven
Penyanyi Cilik Alika Dapat Medali Emas
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk121555 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Ibu Tewas Tertabrak Bus Transjakarta
Kejaksaan Sudah Periksa 7 Orang
Tersangka Bom Ikan Ditangkap
Banyuwangi Dapat Rp 7 Miliar
Purwakarta Tunda Proyek Rp 26 Miliar

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data