Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Orkestra Jalanan
Kamis, 24 April 2008 | 12:26 WIB

TEMPO Interaktif, :
Ruang teater kecil Taman Ismail Marzuki berganti suasana. Panggung tak seberapa lebar ini biasanya diisi dengan pertunjukan yang anggun dan lembut, tapi Minggu sore lalu, penampilan orkestra Chanchiki Tornade membuat setiap pendengar serasa di arena pertunjukan sirkus atau parade tahun baru. Kelompok ini dikenal sebagai orkes jalanan Jepang.

Sebanyak 12 orang memainkan alat musik. Ada piano, saksofon, klarinet, flute, terompet, trombone, perkusi, tuba, dan dua buah snare drum lengkap dengan simbal. Musik yang bertempo cepat dimainkan dengan cadas. Musik yang dikenal dengan sebutan hyperbeat atau hybrid kontemporer melaju kencang menghipnotis setiap penonton. Penampilan mereka yang kerap di jalanan membuat musik mereka dinamis.

Ketika irama melesat cepat, tiupan penuh semangat menghasilkan perpaduan antara saksofon milik Suzuki Hiroshi, terompet Sato Shutoku, flute Saito Kan, dan tuba besar Imagome Osamu. Tak melulu cepat, kadang mereka memainkan melodi padang pasir yang menggoda diiringi denting piano Shunsuke Okuchi yang memukau.

Mereka tak monoton berada di atas panggung dengan posisi saklek. Mereka juga mencuri perhatian penonton dengan turun panggung. Masih memainkan sebuah musik, secara bergantian mereka mengelilingi penonton yang duduk anteng, seakan memberi mereka kesempatan untuk melihat alat musik itu lebih dekat. Ketika musik berhenti tanpa penutup, penonton pun tercengang. Apa yang salah? Tidak ada, hanya memang sudah habis. Mengejutkan.

Pertunjukan orkestra memang bukan sesuatu yang baru. Yang membuat pertunjukan itu berkesan adalah cara mereka berinteraksi. Kelompok musik yang dibentuk pada 1999 ini tak membuat pertunjukan kaku, bahkan membikin penonton santai dan ikut bertepuk tangan mengikuti irama. "Orkestra yang biasa saya lihat itu kaku dan terkesan mewah, tapi yang ini tidak," ujar Dona, salah satu penggemar orkestra yang datang bersama anaknya.

Dari 15 aransemen musik yang dibawakan, beberapa di antaranya berciri lationos. Akordion, klarinet, dan saksofon pun sahut-menyahut dengan perkusi. Dua perempuan bertubuh kecil yang menggebuk drum tampak bergairah. Belum lagi pikolo kecil yang berbunyi nyaring. Suaranya menghadirkan arti tersendiri.

Sebuah kejutan kembali dihadirkan. Satu per satu mereka turun dan keluar dari ruangan. Penonton yang kebingungan pun berdiri mengikuti irama mereka yang belum berhenti. Walah, di lobi gedung ternyata mereka telah berkumpul. Musik parade mengalun lebih ceria dan para pemainnya lebih atraktif. Mereka ikut menari, bahkan penggebuk drum pun mampu menari berputar. Penonton pun berjoget lebih leluasa.

Semua bagian akan terasa begitu sempurna jika tak ada seorang perempuan Jepang berkimono biru ketika pemain masih di atas panggung. Pasalnya, ia mengganggu pemandangan penonton karena berseliweran dengan handycam-nya. Ia mondar-mandir di belakang pemain untuk mengambil gambar sebagai dokumentasi.

Kebanyakan anggota orkestra ini adalah jebolan Universitas Tokyo jurusan seni dan musik. Kelompok itu dibentuk oleh komposer berbakat Negeri Sakura, Yuya Honda. Mereka sering berpentas di berbagai kesempatan. Tak hanya di pementasan fashion dan acara kebudayaan, musiknya pun kerap didengar di pinggir jalan.

Kepergian Honda pada 2004 kini digantikan Suzuki Hiroshi yang memainkan saksofon. Selain pernah tampil di Asahi Cafe, Yokohama Triennale, Yokohama Jazz Promenade, dan pesta musik musim panas Tokyo (2006), mereka sempat berkolaborasi dengan seniman Korea, Kim Sora, pada 2005. l AGUSLIA HIDAYAH


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Heboh Festival Indie
Duran Duran Tampil Malam Ini
Berkas Kasus Konser Musik Under Ground Dilimpahkan
Santri Hadang Konser Musik di Lhokseumawe
Suara Kering Ross
Pentas Toto Batal, Penggemar Marah
Buntut Konser Maut, Tiga Perwira Polisi Dibebastugaskan
Hujan Disertai Petir Bayangi Jakarta
Gempa 5,6 SR Guncang Gorontalo dan Sulawesi Utara
Konser Rock di Bandung Rusuh, 10 Tewas
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk121919 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Tak Ada Minyak Mentah Di Antapani
Walikota Cirebon Tolak Cairkan Gaji ke 13
Polisi Ringkus Pembuat Uang Palsu
Klinik HIV/AIDS untuk Napi Banceuy
PDIP Kecewa Kepala Daerah Dilarang Kampanye.

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data