Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Anjing Super
Rabu, 30 April 2008 | 11:12 WIB

TEMPO Interaktif, : Meski bukan pemilik asli, Lee Duncan (diperankan oleh Tyler Jensen) sudah akrab benar dengan Rin Tin Tin. Anak anjing jenis herder Jerman ini ditemukannya saat evakuasi bom di Paris pada 1918. Tapi profesi Duncan sebagai prajurit Amerika Serikat yang tengah bertugas di Paris pada Perang Dunia I menghalangi keinginannya untuk terus bersama anjing itu.

Perjuangan Duncan untuk terus membawa Rinty--panggilan akrab Rin Tin Tin--ini terekam dalam film berjudul Finding Rin Tin Tin yang kini tengah diputar bioskop di Indonesia. Tak hanya Duncan yang berusaha. Dalam film berdurasi 90 menit ini, aksi Rinty menyelamatkan majikannya saat terluka di medan perang menjadi fenomena heroik tersendiri.

Film yang cocok ditonton bersama keluarga itu dimulai dengan satu kejadian saat Rinty mulai melakukan kenakalan di barak tentara. Ia menggonggong setiap jam, mencuri makanan di dapur, dan merusak sepatu. Kelakuannya menjengkelkan. Akhirnya, Kapten Sandman (Todd Jensen) meminta Duncan membuang anjing tersebut jika tidak bisa dikendalikan.

Duncan mencari cara menyelamatkan Rinty agar tetap bersamanya. Berbekal sebuah buku panduan melatih anjing yang ditemukan di keranjang Rinty sewaktu bayi, ia pun pergi ke penjara tahanan perang. Buku itu menggiringnya kepada pemilik asli induk Rinty yang tak lain adalah seorang prajurit Jerman yang ditahan, Nikolaus (Ben Cross).

Film ini berangkat dari kisah nyata pada Perang Dunia I. Namun, banyak yang bertanya apakah tokoh anjing ini rekaan atau memang tokoh nyata. Apalagi, muncul film-film yang mengangkat kisah tentang anjing tersebut.

Berdasarkan pantauan Tempo di situs www.rintintin.com, anjing berjenis herder Jerman ini memang ada. Ketenarannya di dunia hiburan berawal ketika sebuah klub pencinta herder Jerman di Amerika (1922) tercengang melihat aksi lompatan Rin Tin Tin sejauh 11 kaki 9 inci. Charles Jones dari perusahaan Novograph Pictures lantas menawari Duncan dan anjingnya main film dengan bayaran tinggi.

Kini, anak cucu Rin Tin Tin sudah memasuki generasi ke-10. Setelah kematian generasi kedelapan pada Juni 2007, Rin Tin Tin ke-10 lahir. Anjing milik Lord Jireh inilah yang ditakdirkan menjadi generasi selanjutnya yang akan mengikuti kesuksesan nenek moyang terdahulu.

Film ini memang menarik. Latar Perang Dunia I memang meyakinkan, dari kostum hingga pesawat dan bedil kuno. Namun, jalan cerita perang dalam film itu tak tergambarkan dengan jelas. "Perangnya kayak main-main saja, kebanyakan lucu-lucuan anjingnya," ujar Fauzie, salah seorang penonton.

Alasannya, pria ini menunggu ada adegan tembak-tembakan atau serangan musuh yang tampak seperti perang sungguhan. l AGUSLIA HIDAYAH


Judul: Finding Rin Tin Tin
Jenis: Drama keluarga
Sutradara: Danny Lerner
Durasi: 90 menit
Produksi: Emmet/Furla Films
Pemain: Tyler Jensen, Todd Jensen, William Hope, Robert Blush, Velizar Binev


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tentang Kedewasaan
Memperjuangkan Cinta
28 Film Meriahkan Festival Film Prancis
Pemblokiran You Tube Tak Pengaruhi Hubungan Diplomatik
Iwan Fals Main Film Kekasih
Kalla Puas dengan Ayat-Ayat Cinta
Astro Putar 58 Jam Film Indonesia
Romeo-Juliet ala Indonesia
Demi Cinta
Kisah Para Perempuan
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122252 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data