Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Musik Segar Holy City
Jum'at, 02 Mei 2008 | 10:27 WIB

TEMPO Interaktif, : Di ruang gelap berukuran 20 x 20 meter itu terpampang lukisan Agum Gumelar bersama istri. Agum mengenakan pakaian dinas lengkap dengan baret merah di kepala, senyumnya mengembang. Di sudut ruangan, di atas panggung setinggi 40 sentimeter, sekelompok anak muda memainkan musik. Mereka adalah grup band indie, Holy City Rollers.

Jumat malam lalu, bertempat di rumah Agum, yang juga sebagai kantor BlackMorse Record di Jakarta, Holy City meluncurkan paket album premium perdananya yang diikuti penampilan di panggung. "Ini acara rumah. Bebas kok," kata bos BlackMorse, Haris Khaseli, yang juga putra Agum.

Sekitar 100 tamu undangan tampak menikmati malam itu. Selain makanan gratis yang disediakan panitia, musik yang dihidangkan boleh dibilang segar. Sebelum Holy City tampil, terlebih dulu dua band pembuka meramaikan suasana, yakni Red Voltus (Bogor) dan Lull (Surabaya). Mereka adalah band-band independen yang baru merangkak ke dunia.

Penampilan Holy City, yang terdiri atas Mesa (vokal dan gitar), Andre (bass), Andrew (gitar), Soma (synthesizer), serta Shada (drum), malam itu cukup mumpuni. Musiknya diyakini membuat orang tidak kuasa untuk tidak bergoyang. Berbagai genre musik dipadu dalam satu grup indie yang terbentuk pada 2006 ini, seperti rock, alternatif, pop, hingga ritmik ska-reggae.

Tengok saja lagu andalan mereka yang berjudul Kingdom of Allordia. Entakan dengan nada jingkrak-jingkrak masih diperkaya dengan melodi yang keluar dari synthesizer. Genre alternatif mirip grup Weezer sangat terasa pada lagu ini. Lagu lainnya, For Her, menghadirkan balada pop dengan vokal diatonis mirip Beatles.

Dalam situs resminya, Holy City mengaku memang dipengaruhi oleh berbagai grup musik lawas, seperti Beatles, The Libertines, dan The Strokes. Grup musik dalam negeri pun diakui memberi pengaruh, seperti Zeke and The Popo, Naif, hingga The Brandals.

Boleh dibilang, kualitas lagu-lagu yang dihasilkan Holy City cukup baik. "Kalau nggak dikasih tahu, tadi gue kira band dari luar negeri," kata Marcell, yang baru pertama kali mendengar lagu Holy City. Musik yang dihasilkan anak-anak muda berumur rata-rata 22 tahun ini cukup menggoyang dan bersahabat dengan kuping.

Satu yang menjadi catatan adalah aksi panggung mereka yang masih minim. Hanya vokalis Mesa yang memberi aksi panggung lumayan menghibur dengan mimik yang kerap bertingkah kocak. Sesekali Mesa juga masih menjaga interaksi di antara punggawanya. Sementara itu, pemain lainnya seperti mengisi posisi saja.

Sebenarnya, kehadiran Holy City ke ranah musik Tanah Air cukup memberi warna tersendiri. Berawal dari band indie dengan penampilan di gudang (bekas garasi) dengan beberapa perbaikan, band ini mampu berbicara banyak. Senyum Agum di lukisan itu pun seakan memberi sambutan hangat bagi kehadiran Holy City. l TITO SIANIPAR


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pentas Toto Batal, Penggemar Marah
Melodi Shamisen
Konser di Pulau Napi
Rambut John Lennon Terjual Rp 441 juta
Musik Koes Ploes Akan Digelar di Bekasi
Improvisasi Wolfgang Muthspiel
Komunitas Online Sobat Padi
Konser Jazz Willem Breuker
Eksplorasi Yann Tiersen
Musisi Klasik Keliling Indonesia
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122339 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data