close

Misteri Gempa

Minggu, 06 September 2009 | 00:02 WIB

Putu Setia

Gempa adalah bencana alam paling misterius, tak pernah memberi tahu kapan datangnya. Kalau gunung api meletus, ada tandanya, sehingga penduduk di lereng gunung itu bisa siap siaga. Begitu pula angin ribut, masih memberikan sinyal kapan terjadi, karena manusia bisa meramalkan datangnya. Apalagi banjir, sesungguhnya bisa diprediksi dengan melihat curah hujan di hulu, mengukur ketinggian air di bendungan, dan sebagainya. Kalau bencana-bencana itu masih juga meminta korban berjumlah besar, di dalamnya ada andil kesalahan atau kekurangcermatan manusia.

Tapi, gempa bumi? Belum bisa diramalkan. Ia datang kapan saja maunya dan tak ada siklusnya. Ia datang tak memandang musim panen atau musim paceklik, tak juga memperhitungkan situasi politik. Bahkan, pada saat umat Islam, yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini, menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, gempa itu datang menghancurkan ribuan rumah, menewaskan puluhan orang. Andaikata gempa itu berwujud manusia, kita bisa menonjok hidungnya, kok datang pada bulan yang disucikan? Kenapa tak di lain hari saja atau nggak usah datang?

Meski gempa demikian misterius, sebenarnya masih ada sedikit ilmu yang diketahui oleh manusia di sekitar gempa. Yakni, adanya patahan dalam bumi yang pergerakannya potensial menimbulkan gempa. Dan dari ilmu itu diketahui, kita hidup di atas pertemuan tiga patahan besar di dunia. Artinya, sewaktu-waktu gempa bisa datang, tak bisa dihindari sama sekali.

Konon, ilmu tentang patahan dalam bumi ini sudah begitu tua. Nenek moyang kita sudah mengetahuinya, entah dengan cara apa mereka mengetahuinya. Sebagai bukti, para leluhur kita dalam membangun rumah sudah memikirkan ancaman akibat goyangan gempa itu. Arsitektur tradisional berbagai etnis yang ada di Nusantara ini, konon, kebanyakan tahan gempa.

Gempa yang menghancurkan Bali bagian utara pada 1976 dijadikan bukti oleh para arsitek bahwa bangunan Bali tradisional memang tahan gempa. Itu sebabnya, pascagempa, pemerintah Bali mengkampanyekan kembali arsitektur khas Bali yang mulai ditinggalkan masyarakat. Contoh-contoh bangunan disebarkan ke masyarakat. Korban gempa yang mendapat kredit bank tanpa agunan untuk membangun rumah--tidak seperti sekarang, korban gempa umumnya mendapat bantuan cuma-cuma diharuskan membangun rumah sesuai dengan konsep “arsitektur tahan gempa”.

Masyarakat sudah siaga, namun gempa tak datang-datang--padahal memang itu yang diharapkan. Nah, dalam perkembangannya kemudian, arsitektur tahan gempa itu mulai dilupakan. Bahkan kini rumah-rumah bergaya modern, yang konon sangat keropos jika dilanda gempa, menjadi kegemaran baru warga desa. Bayangkan kalau saat ini datang gempa yang sama dahsyatnya dengan gempa di tahun 1976 itu.

Saya, dan tentu saja Anda, pastilah tidak berharap bencana itu datang. Yang hendak saya katakan adalah sebenarnya kita selalu “bermain judi” dengan bencana. Kita sudah diingatkan berdiam di daerah rawan gempa, tapi kita menganggap remeh hal itu dengan mengabaikan persyaratan hidup di daerah rawan gempa. Kita selalu berpikir bahwa bencana adalah nasib sial, takdir buruk yang tak bisa dicegah. Bahkan sebagian dari kita sering menganggap bencana sebagai cobaan dari Tuhan, atau malah kutukan dari Tuhan. Ah, bukankah Tuhan mahapengasih, kenapa harus main kutuk segala?

Terlepas dari ketidaksiapan kita hidup di daerah yang rawan gempa ini, saya tentu saja ikut prihatin dan berduka atas jatuhnya korban akibat gempa pekan lalu. Semoga keluarga korban tetap tabah.

  • Share on Facebook

Komentar Anda [5] :

  • Raja ayat

    waduuh,ini para raja ayat mulai masuk ke comment tempo. salah alamat mas....nggak ada yang baca disini. balik aja ke situs koran biasanya.

    -- Tlg, Jogja, 10/09/2009 13:19:43 wib

  • Kembali ke science

    Agak ironis kalo tiap kali bencana orang kembali ke ayat2.
    Gempa tektonik memang tidak dapat diramalkan persis, namun dapat dikira2 misalnya, pergerakan lempeng benua secara rata2 adalah 10 cm/tahun, kalau terjadi gempa sekian Richter maka bergerak sekian cm. Kalau disuatu pertemuan lempeng sudah lama tidak gempa, maka siap2 saja, akan terjadi gempa, karena energi potensial yg tersimpan sudah cukup banyak disitu..
    Seperti halnya kapan terjadi supernova juga science tidak tahu pasti, namun dari gejala2 bintangnya menyusut atau tiba2 membesar maka kemungkinan akan supernova.
    Memang paling gampang kembali ke ayat2 saja gak pake mikir. Tuhan sendiri pasti menginginkan kita untuk mempelajari alam ciptaannya ini dan bukan sekadar dekat kepadaNya.

    -- BY, Jkt, 08/09/2009 15:28:16 wib

  • Cukup dekatkah kita dengan yang punya bumi ?

    Bumi juga mahluk Allah, maka bumi juga menjalankan apa yang telah ditaqdirkanNYA. Bumi menjalankan wajibnya, ia bergerak dinamis. Bagi kita menyebutnya gempabumi. Karena kebodohan kita sajalah kita tak bisa tahu kapan gempa akan terjadi. Andai kita cukup dekat hubungannya dengan yang empunya Bumi, maka kita pasti diberi Tahu, kapan buminya ini akan digerakkannya. Bukankah ia Maha Pandai, Maha Berilmu, Maha kasih.

    -- Ir. Hadi Sunarso, Yogyakarta, 08/09/2009 14:55:03 wib

  • Jangan gelisah

    24:4. Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
    24:5 Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
    24:6 Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.
    24:7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.
    24:8 Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
    24:9 Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku,
    24:10 dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.

    -- Kimung, Jakarta, 08/09/2009 08:05:21 wib

  • Al qur'an 99: 1 sd 8

    Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat),
    dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,
    dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (jadi begini)?",
    pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
    karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
    Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
    Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
    Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.

    -- Arema Pinggir Alas, Ngalam, 06/09/2009 23:26:54 wib

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan