Pemerintah Kurang Keras Atasi Krisis Listrik
Selasa, 03 Juni 2003 | 14:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Working Group On Power Sector Restructuring menilai pemerintah tidak cukup berupaya keras menyelesaikan masalah krisis listrik yang mengancam sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Jawa-Bali. “Ancaman pemadaman listrik bagi wilayah Jawa-Bali masih tetap tinggi,” kata Fabby Tumiwa, koordinator WGPSR – LSM di sektor energi kelistrikan-- dalam konferensi pers soal mengatasi krisis listrik di kantor INFID, Jakarta, Selasa (3/6).
Menurut Fabby, di wilayah Jawa-Bali, daya listrik terpasang sebesar 18.612 MW terdiri dari 15.425 MW daya milik PLN dan 3.187 MW listrik dari swasta. Tetapi daya mampu netto PLN hanya 13.440 MW. “Ini data pada 2 juni 2003,” kata dia. Sisanya, menurut Fabbby, dalam status derating 272 (1,46%), dipelihara 3.014 (16,2%), dan ada sekitar 1.700 MW daya listrik yang tidak jelas keberadaannya.
Penilaian LSM itu, krisis listrik ini terjadi karena kelemahan PLN dalam hal manajemen pemeliharaan dan perbaikan pembangkit listrik. Selain itu, pasokan bahan bakar untuk sejumlah pembangkit listrik tidak sesuai. Misalnya, kata Fabby, seharusnya memakai bahan bakar gas, tetapi yang digunakan malah minyak.
“Masalah listrik ini berhubungan erat dengan regulasi,”ujar Fabby. Menurut dia, ini semua tanggung jawab bersama antara pemerintah dan PLN. Tidak selalu PLN harus dijadikan sasaran utama kesalahan karena keterkaitan masalah yang kompleks.
WGPSR juga menyoroti adanya dualisme lembaga-lembaga keuangan internasional yang menyarankan restrukturisasi PLN. Padahal, menurut Fabby, secara manajemen PLN belum siap. Akibatnya, konsumen yang menderita. Untuk perbaikan pasti membutuhkan dana lembaga keuangan internasional tersebut seperti ADB dan Bank Dunia.
Pemerintah, kata Fabby, sudah seharusnya bekerjasama dengan PLN untuk menjelaskan secara transparan kepada publik mengenai permasalahan listrik yang terjadi. Dan konsumen yang setia menggunakan listrik sudah sepantasnya mendapatkan kompensasi dari PLN karena masalah listrik ini. (Narila Mutia-TNR)





