Pemerintah Akan Audit Energi Terhadap Pembangkit Listrik PLN

Rabu, 04 Juni 2003 | 08:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Audit itu bertujuan mendapatkan kepastian kondisi tiap pembangkit dan kapasitasnya.


Pemerintah akan melakukan audit energi terhadap semua pembangkit yang ada di seluruh Indonesia, menyusul terjadinya krisis listrik di Jawa-Bali. Audit itu dilakukan untuk memperoleh kepastian tentang kondisi masing-masing pembangkit dan kapasitasnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, audit akan dilakukan secepatnya oleh Dirjen Listrik dan Pengembangan Energi Luluk Sumiarso dan Dirut PLN Eddie Widiono. Menteri telah memerintahkan kedua pejabat itu untuk segera melakukan audit.

Purnomo mengatakan, dari hasil audit itu, akan diketahui kapsitas terpasang yang sebenarnya pada kondisi sekarang, tentu saja masing-masing pembangkit memiliki kondisi yang berbeda. Selama ini data yang dimiliki pemerintah adalah kapasitas terpasang berdasarkan hitungan pada kondisi dulu. Padahal ada sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi perubahan hitungan itu. Selain itu, audit juga bisa dilaksanakan untuk mengetahui pemborosan yang mungkin terjadi akibat biaya perawatan itu biaya lain yang seharusnya tidak dikeluarkan.

Purnomo mencontohkan, sebuah pembangkit bisa mengalami penurunan kapasitas karena hal-hal tertentu. “Kapasitas yang sebelumnya diketahui 100 megawatt, bisa turun setelah mesin dioperasikan 20-25 tahun” kata dia. Karena itu penghitungan kembali harus dilakukan untuk memperoleh angka yang pasti.

Purnomo menambahkan, dengan audit energi, PLN bisa menghemat listrik, bila ada perubahan teknologi. Ini penting untuk mengurangi beban PLN yang selama ini dinilai terlalu berat.

Selain itu kerusakan mesin juga bisa dipengaruhi oleh bahan bakar yang digunakan. Sejumlah pembangkit yang telah didesain dengan menggunakan bahan bakar gas, bisa mengalami penuaan dini bila tiba-tiba bahan bakarnya diganti dengan BBM. Misalnya yang terjadi pada pembangkit Muara Tawar. Namun, keputusan penggantian bahan bakar itu merupakan pilihan terbaik dari alternatif yang ada. Masalahnya gas sulit didapatkan.

Purnomo mengaku, saat ini memang sudah ada gas sebagai energi substitusi. Tapi gas itu tidak bisa dimanfaatkan begitu saja, melainkan harus dikembangkan terlebih dahulu, baru dialirkan. “Jadi masih butuh waktu” kata dia.


(Retno Sulistyowati-TNR)






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: