Indofood Akan Dirikan 100 Tokcer dan 200 Barokah
Kamis, 26 Juni 2003 | 10:05 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dana akan didapat dari obligasi syariah dan pinjaman dari BRI.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk. berencana menerbitkan obligasi syariah untuk membiayai proyek pembangunan toko eceran yang menjual produk-produk Indofood. Selain itu, manajemen juga merencanakan pendirian warung Barokah yang lokasinya di daerah-daerah pedesaan dan kota kecil. “Ini dalam rangka mendukung ketersediaan produk Indofood bagi masyarakat,” Kata Eva Riyanti Hutapea, direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk., didampingi jajaran direksi dalam paparan publik di Kamis (26/6).
Eva menjelaskan, saat ini manajemen sedang mengkalkulasi besaran dana obligasi
syariah yang akan ditawarkan kepada masyarakat. Salah satu pertimbangannya adalah seberapa besar respon investor untuk obligasi ini. Mengenai waktu penerbitannya, Sri Dewi Subijanto—direktur keuangan, mengatakan, “Ya Insya Allah tahun ini." Untuk itu, menurut Indra Josepha, manajemen telah mengadakan pembicaraan dengan satu perusahaan yang akan menjadi pelaksana penjamin emisi.
Jumlah toko eceran (tokcer) yang akan dibuka hingga akhir tahun, kata Eva, mencapai 100 toko. Perusahaan merencanakan lokasi tokcer nantinya berada di pasar-pasar perkotaan. “Untuk tokcer, kita masih mencari tempat-tempat yang strategis,” kata dia. Saat ini, lanjut dia, perusahaan telah membuka proyek percontohan di kota Serang Banten.
Eva mengaku belum bisa menjelaskan total dana yang dibutukan untuk pengembangan pemasaran produknya Indofood ini. Namun, ia mengancar-ancar, dana untuk menyewa atau membeli satu toko eceran berukuran kecil sebesar Rp5-Rp10 juta. Sedangkan untuk menengah dan besar, seperti minimarket, bisa mencapai diatas Rp50 juta. Toko eceran ini nantinya bisa menjadi hak milik pengelolanya, kata dia, dengan mekanisme yang akan dibuat selanjutnya.
Untuk warung Barokah, Eva memperkirakan dananya sebesar Rp5-Rp10 juta yang berasal dari Bank Rakyat Indonesia. Jumlahnya ditargetkan mencapai sekitar 200 buah di berbagai desa dan kota kecil. “Kita mempercantik penampilan warungnya, misalnya dengan menyediakan papan nama dan rak-rak makanan,” kata dia. Warung ini nantinya tetap menjadi hak milik masyarakat, yang sebelumnya telah membuka warung, misalnya. “Atau juga para nasabah BRI (yang membuka warung),” kata dia.
Berkaitan dengan kinerja perusahaan pada tahun lalu, Indofood membukukan laba bersih sebesar Rp802,6 miliar atau naik 8 persen dari 2001 sebesar Rp746,3 miliar. Penjualan bersih juga mengalami peningkatan 10 persen menjadi Rp16,5 triliun dari Rp14,6 triliun. Sedangkan jumlah deviden yang dibagikan sebesar 30 persen dari laba besih sebesar Rp241 miliar atau Rp28 per lembar saham.
Untuk tahun 2003 ini, kata Eva, manajemen mentargetkan kenaikan jumlah penjualan sebesar 10-15 persen. “Kita confident,’ kata dia. Meski begitu, hingga akhir kwartal pertama 2003, terjadi penurunan laba bersih 35 persen menjadi Rp202 miliar dari sebelumnya Rp309 miliar. “Meningkatnya beban biaya bunga menyebabkan turunnya laba bersih,” kata Sri Dewi.
Hingga kwartal pertama ini, produk-produk unggulan perusahaan masih memimpin pasar seperti mie instan, tepung terigu, minyak goreng, dan makanan ringan. Beberapa contoh produk perusahaan mie instan terbesar di dunia ini adalah Indomie, Supermi, Popmie, Sunrise, Bimoli, Simas, dan Promina.
(Budi Riza—Tempo News Room)





