Menteri: Permintaan Minyak Menurun Kuartal II 2004

Senin, 27 Oktober 2003 | 11:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah memperkirakan akan terjadi penurunan permintaan minyak dunia pada kuartal kedua tahun 2004 mendatang, akibat musim gugur. Berkurangnya aktivitas masyarakat dunia, diduga mempengaruhi penurunan permintaan minyak secara drastis, sebesar 2 juta barel per hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan hal itu usai peringatan HUT PLN, Jakarta, Senin (27/10). Pada saat itu, kata Purnomo, dikhawatirkan faktor fundamental mulai melemah.

Namun, menurut Purnomo, anjloknya permintaan minyak di pasar dunia pada kuartal kedua itu bisa ditutup pada kuartal tiga dan empat. "Biasanya ada waktu untuk me-recovery," kata dia. Masalah itu, tergantung dari hasil analisa negara-negara produsen minyak (OPEC) atas perkembangan situasi pasar.

Rencananya negara-negara anggota OPEC akan mengadakan pertemuan pada 4 Desember 2003, di Wina, Austria. Dalam pertemuan itu, kata Purnomo, akan dianalisa situasi pasar akhir tahun ini hingga tahun depan. Purnomo sendiri memperkirakan, pada kuartal pertama tahun depan kemungkinan penurunan permintaan minyak sudah mulai terjadi, tetapi tidak signifikan seperti yang akan terjadi pada kuartal kedua.

Saat ini, harga minyak dunia sudah mulai turun ke level US$ 28 per barel dari sebelumnya yang sempat melonjak hingga US$ 32 per barel. "Artinya dugaan kita betul bahwa kenaikan harga itu cuma sesaat," kata dia. Kendati demikian hasil analisa OPEC tetap ditunggu. Ini berkaitan dengan kelebihan pasokan yang terjadi sebesar 1,4 juta barel per hari.

OPEC telah memutuskan untuk mengurangi kuota produksi sebesar 900 ribu barel per hari. Dengan pengurangan itu, produksi OPEC menjadi 24,5 juta barel per hari, dari sebelumnya 25,4 juta barel per hari.

Dengan pemotongan kuota produksi itu, masih terjadi kelebihan pasokan sebesar 500 ribu barel per hari. Diharapkan negara-negara produsen minyak non OPEC turut berpartisipasi dengan mengurangi volume produksinya hingga 500 ribu barel per hari. Dengan demikian, diharapkan kelebihan pasokan bisa dihilangkan sama sekali.

Pemerintah berharap ada kerjasama yang baik antara negara-negara OPEC dan non-OPEC untuk menghilangkan kelebihan pasokan. Hal itu penting untuk menjaga stabilitas harga minyak di pasar dunia. Namun, sejauh ini belum ada komitmen resmi dari negara-negara non-OPEC untuk menurunkan volume produksinya.

Menurut Purnomo, yang juga menjabat sebagai Presiden OPEC, dalam pertemuan OPEC sebelumnya negara-negara non-OPEC ikut hadir dan bersedia mendukung stabilitas harga. Tetapi belum bisa dipastikan pernyataan itu apakah normatif saja karena kenyataannya Rusia justru berniat menaikkan produksinya dari 7 juta barel per hari menjadi 8 juta barel per hari.

Hal itu dikhawatirkan akan menambah kelebihan pasokan yang terjadi. "Saat ini perhatian OPEC terbesar terhadap Rusia," kata Purnomo.

Retno Sulistyowati - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: