Tahun ini Daya Saing Indonesia Menurun

Jum'at, 31 Oktober 2003 | 10:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Berdasarkan survei World Economic Forum, tingkat daya saing Indonesia untuk 2003-2004 menurun.

Indonesia berada di peringkat 72 dari 102 negara yang diteliti dari sebelumnya yang menduduki urutan 67 dari 80 negara.

Hal tersebut mencuat dari Laporan Daya Saing Dunia (The Global Competitiveness Report) yang dipaparkan oleh Tulus T.H. Tambunan, Ketua Lembaga Penelitian Pengkajian Pengembangan Ekonomi (LP3E) di Jakarta, Jumat (31/10) siang. Menurut Tulus, bila dibandingkan dengan beberapa
negara di Asia Tenggara, Indonesia menjadi yang
terburuk. "Vietnam saja ada di urutan 60. Mungkin
ini bisa menjelaskan kenapa banyak perusahaan
memindahkan pabriknya ke sana," katanya sambil
tertawa.

Pertumbuhan daya saing beberapa negara terdekat memang jauh
melampaui. Misalnya, Singapura berada di urutan ke-6, Malaysia peringkat 29, Thailand ke-32, Cina
ke-44 dan India di urutan 56.

Menurut Tulus, dirinya mengaku pesimis dengan pertumbuhan daya saing Indonesia. "Taruhlah Indonesia bisa tetap di jalur yang sekarang. Tapi negara lain dengan kecepatan yang
lebih tinggi akan membuat peringkat Indonesia semakin
terpuruk," katanya.

Laporan ini, papar Sekretaris Eksekutif di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) ini, sedikit banyak menjadi panduan bagi investor untuk menetapkan langkahnya. Apalagi di era dunia tanpa batas (borderless).

Berkaitan dengan hasil survei ini, Soy M. Pardede,
ketua kompartemen bidang perdagangan Kadin menilai
hasil ini amat berkait dengan para pelaku perdagangan.
"Ini cerminan apa yang dialami para pelaku usaha di
lapangan," kata Soy. Sebenarnya, menurut dia, hal ini
amat menyedihkan karena harus diangkat
berulang-ulang dan semakin membuat mitra dagang
menjadi tidak percaya.

Beberapa indikator daya saing bangsa yang digunakan
dalam penelitian untuk mengukur indeks pertumbuhan
daya saing ini antara lain teknologi, lembaga publik
dan lingkungan ekonomi makro. Untuk ekonomi makro
terbagi menjadi dua variabel yaitu stabilitas makro
dan peringkat kredit. Ekonomi makro Indonesia berada
di urutan 64, sangat jauh dibanding Cina yang ada di
urutan 25. Indikator lembaga publik, variabelnya
adalah korupsi. Indonesia ada di urutan 88 sedikit
lebih baik bila dibandingkan dengan Filipina yang ada
di urutan 92.

Sebelumnya tahun 2002 indeks ranking daya saing ini,
ada dua hal yang diukur. "Pertumbuhan daya saing dan
indeks daya saing mikro ekonomi," jelas Tulus.
Sedangkan untuk Laporan Daya Saing Indonesia ini ada
dua isu besar yang diukur. Indeks pertumbuhan daya
saing dan indeks daya saing dari segi bisnis. Untuk itu
dalam survei ini, World Economic Forum juga
menyebarkan kuesioner kepada para eksekutif di
perusahaan. "Jadi ada dua data yang diandalkan di
sini, data primer dan sekunder yang berupa penyebaran
kuesioner ini," kata Tulus.

Dari sekitar 250 kuesioner yang disebar, hanya 67 yang kembali. Penelitian metode
kualitatif yang di Indonesia bekerjasama dengan LP3E
dan Kadin ini, menetapkan standar minimal 60 - 70
kuesioner untuk bisa dinyatakan valid. Penyebaran kuesioner mulai dilakukan Februari 2003 dan selesai hingga Maret 2003. Pengolahan data dilakukan oleh World Economic Forum bekerjasama dengan Universitas
Harvard.

Anastasya Andriarti/TNR






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: