Kadin Berupaya Optimalkan Investasi Cina di Indonesia

Selasa, 09 Desember 2003 | 20:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) berupaya untuk mengoptimalkan investasi Cina di Indonesia. Kalangan dunia usaha berharap pengusaha Cina mau bekerjasama untuk menggerakkan sektor riil. Seperti yang dipaparkan Ketua Umum Kadin Indonesia Komite Cina, Sharif C. Sutardjo, pihaknya berupaya untuk mendorong pengusaha Cina agar datang ke Indonesia sambil membawa sejumlah dana.

"Kami berharap pengusaha Cina mau datang membawa dana dengan suku bunga yang rendah sehingga bisa bersama-sama menggerakkan sektor riil Indonesia," kata Sharif saat membuka pertemuan bisnis antara pengusaha Indonesia dengan pengusaha Cina dari Provinsi Fu Jian, di Hotel Shangrila Jakarta, Selasa (9/12).

Peningkatan hubungan perdagangan dan investasi Indonesia-Cina ini, papar Sharif, amat diperlukan untuk menggerakkan perekonomian domestik yang sedang merangkak. "Tentu saja, upaya ini perlu diimbangi dengan usaha pemerintah memperbaiki iklim usaha agar lebih kondusif," kata dia.

Saat ini kondisi makro Indonesia sudah sedikit membaik. Menurut prediksi pemerintah, hingga akhir 2003 ini, inflasi diperkirakan berada di bawah 6 persen. Kurs stabil di sekitar Rp 8.500 per dollar Amerika, suku bunga SBI 3 bulan ini mencapai 9 persen per tahun, cadangan devisa melampaui 34 miliar dollar Amerika dan stok utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun menjadi sekitar 67 persen.

Namun, papar Syarif, membaiknya kondisi makro ini tidak dibarengi pulihnya investasi dan ekspor. "Akibatnya, pemulihan ekonomi Indonesia relatif lebih lambat," kata dia. Hal ini masih dipersuram dengan prediksi kalangan usaha yang menyatakan investasi masih akan suram hingga beberapa tahun mendatang.

Kondisi ini amat berbeda dengan negara tirai bambu. Menurut Sharif, Cina mencatat pertumbuhan yang amat pesat. "Sepuluh tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi Cina dapat dipertahankan di atas rata-rata 7 persen," jelas dia. Tahun ini angka pertumbuhannya mencapai 8,3 persen dan diperkirakan akan terus tumbuh menjadi 8,5 persen pada 2004. Tahun lalu saja, Cina merupakan negara di kawasan Asia yang paling banyak menyedot investasi asing dengan nilai sekitar US$ 50 miliar. “Untuk investasi di kawasan Asia saja, Cina menyedot 50 -60 persennya," kata Sharif.

Indonesia, kata Sharif, seharusnya dapat mencontoh Cina. "Mereka amat keras menciptakan iklim investasi yang kondusif, seperti kepastian hukum dan infrastruktur yang memadai," kata dia. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang amat produktif. Tak heran, produk Cina memiliki daya saing tinggi di pasar.

Cina, saat ini, setidaknya memiliki 3.800 pelabuhan angkut, 300 diantaranya dapat menerima kapal berkapasitas 10 ribu MT. Tahun 2001 Cina menghasilkan tenaga listrik sebesar 14,78 triliun KWH. Bahkan tahun 2009, menurut data Kadin, Cina akan mengoperasikan PLTA terbesar di dunia yang menghasilkan tenaga listrik sebesar 84, 7 triliun KWH. Sementara, untuk saluran telepon (fixed line), tahun lalu Cina tercatat memiliki 207 juta sambungan. Padahal tahun 1989 hanya ada 5,68 juta sambungan.

Anastasya Andriarti - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim