2004, Pemerintah akan Investasi untuk LNG
Selasa, 30 Desember 2003 | 21:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Untuk meningkatkan produksi Gas Alam Cair (Liquid Natural Gas/LNG), pemerintah akan menanamkan investasi senilai US$ 2,1 miliar yang akan dialokasikan ke tiga tempat penambangan LNG, yakni Tangguh, Train I Bontang, dan LNG terminal Jawa Timur.
Untuk investasi Tangguh Papua, pemerintah akan menginvestasikan dana sekitar US$ 1,3 miliar. "Itu pun hanya untuk pembangunan sarana utamanya saja. Sedangkan untuk pengembangan lapangannnya dibutuhkan dana sekitar US$ 600 juta," ujar Kepala Badan Pelaksana Sektor Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), Rachmat Soedibyo, di Jakarta, Selasa (30/12).
Rachmat menjelaskan, untuk investasi di Train I Bontang, pemerintah akan menginvestasikan sekitar US$ 0,5 miliar. Sementara untuk investasi LNG terminal Jawa Timur, pemerintah berencana mengalokasikan dana sekitar US$ 0,3 miliar. "Total kita akan investasikan untuk LNG senilai US$ 2,1 miliar," katanya.
Dijelaskan Rachmat, sebagai upaya meningkatkan produktifitas di bidang ini, pihaknya akan berusaha meningkatkan minat investor untuk eksplorasi dan eksploitasi migas. Selain itu akan meningkatkan pasar gas bumi domestik. "Kita juga akan meningkatkan pemasaran LNG ini," ujarnya.
Menurutnya, beberapa perusahaan yang berminat mengimport LNG dari Indonesia, antara lain, Sempra, Marathon dan Chevron, untuk memenuhi kebutuhan pasar yang mencapai 6 juta ton pertahun. Namun dalam perkembangannya, Sempra menunjukkan kemajuan yang pesat dengan mengantongi hampir semua perizinan yang diwajibkan pemerintah setempat. Bagi Indonesia, siapa pun perusahaan yang akan bekerjasama tidak menjadi masalah.
Rencananya suplay gas akan diambilkan dari lapangan Tangguh, Papua, yang akan berproduksi tahun 2007. Semula pemerintah menawarkan beberapa lapangan gas, termasuk Lapangan Donggi, di Kalimatan Timur, agar ada multi sumber, sehingga pasokan terjamin. Namun karena kebutuhan hanya 3 juta ton per tahun, maka cukup diambilkan dari lapangan Tangguh.
Kilang Tangguh sendiri memiliki kapasitas sekitar 6 juta ton. Selain ke pasar Amerika Barat, gas dari tangguh juga diekspor ke Fujian dan Korea. Pemerintah pernah mentargetkan kilang tangguh akan dibangun akhir tahun ini. Namun, menurut Rachmat, rencana itu molor. "Kira-kira semester pertama tahun depan, baru bisa dilaksanakan. Tapi beberapa infrastruktur, seperti kompresor telah dibangun. Tinggal kilangnya saja," kata dia.
Danto - Tempo News Room





