Excelcom akan Terbitkan Obligasi US$ 250 Juta
Kamis, 08 Januari 2004 | 19:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Sales dan Marketing Business Solutions Excelcom, Rudiantara mengatakan, pihaknya tengah mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan penjajakan (roadshow), obligasi valuta asing dalam bentuk US$ bernilai US$ 250 juta.
Hasil dari perjalanan penjajakan ini nantinya akan digunakan untuk pembiayaan utang kembali refinancing) perusahaan yang memiliki 2,9 juta pelanggan ini. Jumlah utang sekitar US$ 250-300 juta ini dipinjam Excelcomindo dari empat perusahaan pemberi pinjaman (Lender). Mereka adalah Chase, ANZ, Sakura, dan ING.
Utang itu, menurut Rudiantara, digunakan perusahaan seluler nomor tiga di Indonesia ini untuk biaya investasi proXL yang ditandatangani pada 1997 lalu. Dalam perjanjian pihak Excelcomindo dengan keempat perusahaan pemberi pinjaman itu, disetujui jatuh tempo pembayarannya pada akhir 2006 sampai awal 2007.
Untuk 2004 ini, Excelcomindo menganggarkan biaya investasi sebesar US$ 150 juta. Target pertumbuhan pelanggan diharapkan mencapai 4 juta. Sedangkan pada 2003 lalu, pertumbuhan pelanggan proXL mencapai jumlah 2,9 juta.
Pertumbuhan pelanggan yang relatif lambat dibandingkan dengan kompetitor Excelcomindo lainnya tidak membuat pihaknya khawatir. Belum lagi dengan hadirnya beberapa operator baru yang berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) di Indonesia. Operator baru ini menawarkan tarif telepon yang relatif murah bahkan sama dengan tarif telepon lokal.
Saat ini, menurutnya, investasi bisnis telekomunikasi bernilai US$ 1-2 milyar. Dilihat dari pertumbuhan pelanggannya pun terus meningkat. Pada 2002 seluruh pelanggan pasar telekomunikasi di Indonesia berjumlah 11,4 juta, kemudian meningkat menjadi 18,5 juta pada tahun berikutnya.
"Pertumbuhan seluler akan tetap bagus. Pada akhir 2004 ini diharapkan jumlah pelanggan mencapai 25 juta," jelas Rudiantara yang juga menjabat Sekretaris Jenderal di Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) ketika ditanya pertumbuhan bisnis seluler dalam industri Indonesia. Pada 2004, ATSI menargetkan hanya terjadi pertumbuhan seluler sebesar 40 persen, lebih kecil dibanding tahun lalu, yaitu 60 persen.
Sedangkan bila dihubungkan dengan pesta rakyat Indonesia, Pemilu 2004 yang akan segera digelar, menurutnya berdampak positif terhadap bisnis telekomunikasi. Dari data yang ia miliki, pendapatan industri dari telekomunikasi seperti layanan short Message Service meningkat sebesar 20 persen. "Menjelang pemilu ini penggunaan SMS meningkat. Banyak digunakan untuk sistem polling seputar Pemilu nanti," katanya.
Listi Fitria - Tempo News Room





