Permintaan Obligasi Valas Membludak
Kamis, 04 Maret 2004 | 09:13 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Permintaan negara-negara investor terhadap obligasi valuta asing yang diterbitkan pemerintah Indonesia membludak hingga lebih dari empat kali. Dari jumlah obligasi yang ditawarkan sebesar US$ 1 miliar, permintaan yang masuk mencapai US$ 4,16 miliar. "Ini makin memantapkan pembiayaan APBN 2004," kata Menteri Keuangan Boediono dalam jumpas pers di Departemen Keuangan Jakarta, Rabu (3/3) malam.
Menurut Boediono obligasi internasional perdana ini dicatatkan di bursa saham Luksemburg. Para pembeli obligasi berjangka sepuluh tahun ini berasal dari sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Eropa dan Asia. "Trustee yang sekaligus merangkap agen fiskal ditunjuk The Bank of New York," imbuhnya.
Obligasi yang akan jatuh tempo pada 10 Maret 2014 penjualannya dilakukan dengan metode book building oleh joint-lead managers Deutsche Bank AG dan JP Morgan. Harga ditetapkan hari ini pada pukul 17.00 waktu Luksemburg saat penutuapan bursa tersebut. "Para pembeli akan membayar obligasi yang telah dibelinya pada 10 Maret 2004," katanya.
Kupon obligasi negara ini sebesar 6,75 persen dengan keuntungan investasi (yield) yang diperoleh pemerintah sebesar 6,85 persen. Kupon akan dibayarkan dua kali setahun setiap tanggal 10 Maret dan 10 September. Dengan yield sebesar ini pemerintah memperoleh spread 277 basis poin di atas yield US Treasury. "Ini hasil yang baik karena spread yang ketat memungkinkan biaya yang dikeluarkan juga lebih murah," kata Boediono.
Keuntungan yang diperoleh pemerintah itu, kata Boediono, masih lebih baik dibanding obligasi dengan jangka waktu yang sama yang telah diterbitkan oleh negara-negara lain seperti Filipina dan Turki yang masing-masing sebesar 8,81 persen dan 7,20 persen dengan rating utang yang lebih baik yakni BB dan B+. "Keberhasilan ini menunjukan kepercayaan investor telah pulih," ujarnya.
Boediono menambahkan dengan membludaknya permintaan itu secara otomatis para investor itu percaya pada kemampuan keuangan Indonesia dalam membayar surat utang saat jatuh tempo nanti. Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah yang juga hadir dalam jumpa pers menambahkan, keberhasilan akan dijadikan referensi bagi perusahaan di Indonesia dalam menerbitkan obligasi di luar negeri.
Pada 2003, kata Burhanuddin, tujuh perusahaan swasta telah menjual obligasinya di luar negeri. Dengan kesuksesan pemerintah menjual obligasi ini, katanya, diharapkan perusahaan lainnya terpacu untuk menerbitkan obligasi serupa karena nilai keuntungannya yang besar.
Bank sentral, katanya, sudah siap mengamankan untuk menstabilkan kurs rupiah yang menjadi faktor penentu harga obligasi merosot saat jatuh tempo. Faktor kurs ini, katanya, sangat berpengaruh terhadap obligasi karena bersinggungan dengan nilai kurs mata uang asing lainnya terutama dolar Amerika Serikat. Meski mendapat respons yang bagus, pemerintah, kata Boediono, belum berencana menerbitkan obligasi serupa baik dalam dolar maupun dalam euro ataupun yen Jepang.
Sebermula, pemerintah hanya akan menerbitkan jumlah obligasi internasional sebesar US$ 400 juta seperti yang tercantum dalam APBN 2004. Setelah penjajakan ke calon pembeli dan mendapat respon yang baik, pemerintah kemudian menaikan jumlah itu. Dalam penjajakan-penjajakan yang telah dilakukan, para investor banyak yang meminta jumlah itu dinaikan hingga US$ 1 miliar.
Meski ada penambahan, kata Boediono, pemerintah tidak perlu melapor ke DPR. Pasalnya, dalam pembahasan dulu disepakati pemerintah boleh menentukan jumlah obligasi dalam dan luar negeri asal tak melebihi jumlah yang ditetapkan sebesar Rp 32,5 triliun tahun ini.
Dengan telah terpakainya jumlah US$ 1 miliar atau Rp 8 triliun maka sisanya sebesar Rp 24,5 triliun akan dipakai untuk menerbitkan obligasi dalam negeri. Untuk pertama kali, pada Februari kemarin pemerintah telah menerbitkan obligasi domestik sebesar Rp 2,5 triliun. Rencananya obligasi lokal ini akan diterbitkan setiap bulan.
Bagja Hidayat - Tempo News Room





