Obligasi Negara Kembali Diborong Pembeli
Selasa, 16 Maret 2004 | 20:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Surat utang negara seri FR0023 berjangka waktu delapan tahun kembali diborong pembeli dalam lelang obligasi hari ini di Bank Indonesia, Selasa (16/3). Dari jumlah yang ditawarkan sebesar Rp 2 triliun, penawaran yang masuk hampir mencapai tiga kali atau Rp 5,672 triliun.
Dalam lelang yang dilakukan mulai pukul 10.00 WIB dan ditutup pada pukul 12.00 WIB itu tingkat keuntungan (yield) terendah yang masuk sebesar 11,4 persen dan tertinggi 12,25 persen. Pemerintah memutuskan keuntungan tertinggi yang dimenangkan diturunkan menjadi 11,6 persen dan keuntungan rata-rata tertimbang 11,57 persen.
"Obligasi ini mempunyai tingkat bunga sebesar 11 persen," kata Kepala Biro Humas Departemen Keuangan Maurin Sitorus usai penutupan lelang di Jakarta.
Maurin menambahkan obligasi ini akan diterbitkan pada 18 Maret 2004 sesuai tanggal pembayaran obligasi oleh pembeli yang dinyatakan menang. Obligasi ini akan jatuh tempo pada 15 Desember 2012. Para pemenang lelang diharuskan membayar bunga obligasi ini setiap tanggal 15 Juni dan 15 Desember.
Sebelum lelang pemerintah menetapkan alokasi untuk pemenang yang tidak ikut lelang sebesar 15 persen dari total obligasi yang ditawarkan atau Rp 300 miliar. Sehingga para pemenang lelang mendapat surat utang negara dengan jumlah nominal sebesar Rp 1,7 triliun.
Kepala Pusat Manajemen Obligasi Negara Fuad Rahmany yang mendampingi Maurin menambahkan, Menteri Keuangan telah memutuskan jumlah nominal obligasi yang dijual tetap Rp 2 triliun meski penawaran yang masuk lebih besar dari yang ditawarkan. "Kami harus melihat juga perkembangan bunga ke depan," katanya memberi alasan, "agar harga obligasi tetap stabil dengan jumlah indikatif yang sudah ditetapkan."
Menurut Fuad lelang kali ini merupakan pelelangan kembali obligasi seri FR0023. Sebelumnya pemerintah telah dua kali melelang obligasi seri ini. Pertama pada tahun lalu sebesar Rp 3,2 triliun dan yang kedua pertengahan bulan lalu sebesar Rp 2,5 triliun.
Lelang kali ini merupakan lelang terakhir seri obligasi berjangka delapan tahun ini. "Untuk penerbitan bulan April, kami akan lihat pasar dulu apakah penerbitan kembali ataukah menerbitkan seri yang baru," katanya. Alasan menerbitkan kembali seri FR0023 ini, kata Fuad, karena para pembeli masih berminat pad abligasi dengan tingkat bunga 11 persen ini.
Selain itu pemerintah berkepentingan menstabilkan struktur portofolio obligasi yang sudah dijual ke pasar agar tidak menumpuk jatuh temponya pada tahun tertentu sehingga pemerintah kerepotan saat akan membeli kembali obligasi tersebut. Tahun-tahun yang menumpuk jatuh tempo obligasi, kata Fuad, selain tahun ini adalah tahun 2008 dan 2009.
Dibanding suku bunga Sertifikat Bank Indonesia yang sebesar 7,42 persen, tingkat bunga obligasi ini memang jauh lebih tinggi. Kata Fuad perbedaan yang jauh merupakan sesuatu yang wajar. "SBI kan satu dan tiga bulan saja, sementara obligasi berjangka delapan tahun memang harus ada rentang, di Amerika juga begitu."
Menurutnya, para pembeli tidak melihat turun naik tingkat bunga pada setiap instrumen moneter itu tapi memperhatikan kondisi saat ini. "Pemerintah melihat bunga akan rendah waktu mendatang. Investor tidak melihat seperti itu, yang penting kondisi sekarangnya bagaimana," ujarnya. Semakin lama jatuh tempo sebuah surat utang, katanya, risiko tak terbayarnya dan ketidakpastiannya akan semakin tinggi.
Namun Fuad tidak bisa menyebutkan komposisi pembeli lelang obligasi kali ini dengan alasan masih disusun. Tapi Kepala Badan Analisa Fiskal Anggito Abimanyu memberi ancar-ancar para pembeli itu datang dari beragam lembaga keuangan. Dana pensiun, katanya, merupakan salah satu lembaga keuangan yang menjadi pemenang. "Masih disusun di BI, karena pembeli ada yang langsung jadi penawar ada juga yang melalui perantara," katanya.
Lelang obligasi kali ini merupakan lelang oblgasi domestik kedua dalam tahun ini. Bulan lalu lelang obligasi juga mengalami kebanjiran penawaran. Dari Rp 2,5 yang ditawarkan, penawaran yang masuk mencapai Rp 5,3 triliun.
Bagja Hidayat - Tempo News Room





