2005, Allianz Life Targetkan Lima Besar di Indonesia
Kamis, 25 Maret 2004 | 15:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perusahaan jasa asuransi, perbankan dan pelayanan manajemen aset Allianz Life menargetkan menjadi lima besar perusahaan sejenis pada 2005 mendatang. Hal ini dikatakan Direktur Allianz Life Indonesia, Handojo G. Kusuma, dalam laporan kinerja tahun 2003 di Hotel Regent, Jakarta, Kamis (25/3). Hadir juga pada acara itu Presiden Direktur Allianz Life, Jens Reisch, dan Chief Excecutive Officer Rianto Djoyosugito.
Optimisme ini, kata Handojo, berdasarkan pendapatan premi pada tahun kemarin yang makin menaik. "Kita di tahun 2003 mencapai pertumbuhan yang luar biasa. Dimana premi kita tumbuh mencapai 72 persen dan kedepan nanti kita akan growing lebih cepat lagi," katanya. Nilai 72 persen itu, kata dia, sama dengan Rp 719 miliar."Hal ini mencerminkan kekuatan pertumbuhan bisnis asuransi jiwa perorangan, serta asuransi jiwa kumpulan dan kesehatan," tegas Handojo.
Menurutnya, premi asuransi jiwa perorangan tercatat Rp 559 miliar yang merupakan 78 persen dari total pendapatan premi tahun 2003. "Pertumbuhan ini mencerminkan besarnya permintaan pasar untuk produk smartlink(unit link)," katanya.
Sementara itu, Jens Reisch mengatakan, saat ini Allianz Life telah berkembang di 70 negara. "Sisi kami menjadikan Allianz Life Indonesia perusahaan asuransi patungan terkemuka di Indonesia," katanya.
Berkaitan dengan Pemilu, Jens mengatakan, dampak terhadap pendapatan perusahaan tidak ada. "Untuk Pemilu Allianz Life hanya merasakan dampak sedikit. Secara keseluruhan tidak ada dampak yang signifikan," katanya. Menurutnya, pendapatan dua bulan pertama tahun 2004 ini sama halnya seperti bulan-bulan di tahun sebelumnya.
Handojo mengatakan juga tahun 2004 ini akan meningkatkan total investasi. "Dimana tahun ini kita akan memecahkan telor diatas Rp 1 triliun dengan total tenaga pemasaran mencapai 8 ribu orang," katanya. Dia juga menambahkan, investasi yang dilakukan untuk jangka panjang. "Dana IT saja mencapai US$ 3,2 juta. US$ 1,6 juta digunakan untuk bisnis asuransi kesehatan," katanya.
Muhamad Nafi - Tempo News Room





