April, Jual Beli LNG dengan Korea Ditandatangani
Rabu, 31 Maret 2004 | 16:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah segera menandatangani kontrak jual beli gas alam cair atau liquid nature gas (LNG) dengan dua perusahaan asal Korea Selatan, SK Corporation dan Posco Company. Ditargetkan, penandatanganan Sales and Purchase Agreement (SPA) itu bisa dilakukan akhir April 2004.
Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), Rachmat Soedibyo, mengungkapkan hal itu, di Jakarta, Rabu (31/3). Namun ia belum bisa menyebutkan waktu penandatangan karena pihak-pihak terkait belum menentukannya.
Ia menjelaskan, negosiasi pemerintah dengan SK dan Posco telah mencapai tahap final. Sejumlah butir term and condition telah disepakati, termasuk masalah harga gas. Sayangnya Rachmat tidak bersedia menyebutkan harga gas dalam kontrak tersebut, apakah lebih tinggi atau kurang dari harga penjualan gas ke Fujian US$ 2,4 per MBTU. "Plus minus segitu. Ada formulanya," ujarnya.
Seperti diberitakan, Indonesia telah memenangkan tender penjualan LNG ke Korea Selatan sebesar 1,15 juta ton per tahun, setelah mengalahkan pesaing kuatnya, Petronas Malaysia. Indonesia akan memasok gas untuk perusahaan penyulingan minyak terbesar SK Corporation dan produsen baja terbesar Posco Company selama 20 tahun.
Penandatanganan Head of Agreement (HoA) dengan kedua perusahaan tersebut telah dilakukan tahun lalu. Dengan SK Corporation, penandatanganan dilakukan di Bali, 11 Agustus 2003. Sedangkan dengan Posco dilakukan di Korea, 14 Agustus 2003.
Menurut Rachmat, ada kemungkinan permintaan LNG dari Korea Selatan akan bertambah. Ini berkaitan dengan proses reformasi deregulasi sektor yang terjadi di negara tersebut. "Dulu, seluruh permintaan Korea untuk Kogas, sekarang sudah dilepas," kata dia. Pembukaan monopoli itu, lanjutnya, menimbulkan kompetisi yang kuat. Setiap perusahaan diperbolehkan membangun terminal penerima.
Ia menambahkan, pemerintah juga mengupayakan pasar LNG lain selain Korea. Misalnya ke Shandong dan Jiangshu, Cina. Rachmat mengaku, di Jiangshu bulan lalu ia diterima Wakil Gubernur Jiangshu dan pemerintah tempat akan dibangunnya terminal penerima. "Respon mereka cukup baik. Mereka sangat berminat," ujarnya optimis.
Potensi pasar gas di Jiangshu, menurut Rachmat, memang cukup besar. Namun ia belum bisa menyebutkan volume yang pasti. Biasanya, setiap terminal penerima LNG dibangun untuk kapasitas minimal 3 juta ton.
Dalam pertemuan itu, belum dibicarakan secara detil mengenai jual beli. Pemerintah daerah setempat masih harus melaporkan masalah itu ke pemerintah pusat. Rachmat berharap kerjasama itu ditindaklanjuti dengan pembicaraan antar pemerintah (G to G). Sehingga tidak perlu diadakan tender.
Selain itu, tim dari BP Migas juga tengah melakukan pembicaraan jual beli gas ke Shandong. Potensi pasar di wilayah itu diyakini juga cukup besar. Pemerintah berharap bisa segera memasok LNG ke Cina.
Retno Sulistyowati – Tempo News Room





