Kebijakan BI Hanya Timbulkan Liquidity Shifting

Rabu, 31 Maret 2004 | 19:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kebijakan Bank Indonesia untuk melakukan reformasi kebijakan instrumen moneter untuk sementara hanya akan menimbulkan liquidity shifting atau perpindahan instrumen penanaman dana dari SBI ke surat utang negara (SUN) dan lainnya. ?Efektivitasnya terhambat Pemilu,? kata Antonio Yongnata, Vice President Portfolio Fixed Income Manager Citigroup Asset Management dalam acara 'Macro Economic Outlook' di Hotel JW Marriott, Jakarta, Rabu (31/3) sore.

Menurut Antonio, tujuan Bank Indonesia (BI) melakukan serangkaian perubahan kebijakan moneter ini agar perbankan lebih agresif menyalurkan kredit tidak akan tercapai sebelum Pemilu usai. ?Kalau Pemilu berjalan dengan damai maka kebijakan BI tersebut akan efektif memaksa peningkatan penyaluran kredit pada 2005 nanti setelah Pemilu usai,? urainya.

Hal ini, kata Antonio, karena para investor dan pelaku usaha masih bersifat menunggu akibat adanya ketidakpastian dari Pemilu. Kalau Pemilu berjalan dengan damai maka kepercayaan semua pihak baik perbankan, investor maupun dunia usaha akan menguat dan tingkat pengucuran kredit akan meningkat.

Akan tetapi, menurut Antonio, apabila Pemilu berjalan tidak lancar atau terjadi kekacauan maka otomatis kepercayaan investor dan dunia usaha akan rusak. Akibatnya tujuan dari kebijakan BI tersebut tidak akan tercapai. ?Bahkan kemungkinan BI terpaksa harus menunda pengimplementasian beberapa kebijakan soal SBI dan FASBI tersebut,? katanya.

Dalam pandangan Antonio, sekarang semua tergantung kepada Pemilu. Apabila Pemilu lancar kebijakan BI akan efektif dan sebaliknya kalau kacau akan merusak semuanya. ?Sekarang semua dalam kondisi menunggu. Bahkan lembaga pemeringkat internasional menunda untuk memberikan kenaikan peringkat Indonesia karena menunggu perkembangan Pemilu,? katanya.

Berdasarkan hal itu, menurut Antonio, untuk sementara kebijakan BI untuk melakukan penjarangan lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan secara bertahap melakukan pengeringan FASBI, untuk sementara hanya akan menimbulkan /liquidity shifting/ atau perpindahan tempat penanaman dana.

Sementara menurut Frederik Wattimena, Direktur /Indonesia Business Head Citigroup Asset Management/, /liquidity shifting/ tersebut terjadi juga karena BI akan melaksanakan kebijakan ini secara bertahap dengan menciptakan pintu dan jendela lain apabila perbankan dirasakan perlu untuk diserap maupun ditambah likuiditasnya. ?Buktinya adalah pengembangan SUN sebagai pengganti SBI serta penyempurnaan mekanisme SBI Repo,? katanya.

Kebijakan untuk mengganti SBI dengan SUN, kata Frederik, dan masuknya BI sebagai pemain di pasar sekunder surat berharga akan menyebabkan pelaku industri jasa keuangan tidak kesulitan ketika memerlukan tambahan likuiditas maupun tempat untuk menyalurkan likuiditas.

Amal Ihsan ? Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: