BI Tidak Akan Naikkan SBI Meski The Fed Naikkan Suku Bunga
Selasa, 20 April 2004 | 20:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) walaupun ada kemungkinan The Federal Reserve Bank (bank sentral Amerika Serikat) akan menaikkan suku bunga. “Karena suku bunga kita masih cukup tinggi,” ujar Deputi Gubernur Senior BI, Anwar Nasution ketika dihubungi TNR, Selasa (20/4) sore.
Menurut Anwar, suku bunga SBI yang saat ini sekitar 6 persen masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan suku bunga negara tetangga dan Amerika Serikat (AS) sendiri. “Lagipula kita memiliki pertimbangan sendiri yang didasarkan kepada kondisi dan situasi di dalam negeri,” katanya.
BI sendiri saat ini, kata Anwar, memiliki kepentingan untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan untuk menggerakkan sektor riil dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, tingkat inflasi sampai saat ini juga masih berada di level yang diinginkan. “Karenanya belum ada alasan untuk meningkatkan suku bunga SBI dari dalam negeri,” ujarnya.
Walaupun suku bunga deposito saat ini sudah cukup rendah, kata Anwar, tetapi banyak instrumen investasi lainnya seperti reksadana yang mampu menawarkan return yang lebih baik sehingga menjadi alternatif investasi. “Reksadana itukan malah panen. Jadi tidak benar orang menjerit karena suku bunga deposito yang rendah,” ujarnya.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Halim Alamsyah. Menurutnya, suku bunga SBI saat ini masih cukup tinggi dibandingkan suku bunga di AS dan negara lain sehingga masih cukup kompetitif untuk menarik investasi. “Naiknya suku bunga di AS, apabila benar terjadi, tidak perlu dikhawatirkan akan menimbulkan arus dana keluar," katanya.
Selain itu, kata Halim, masih ada kemungkinan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga. Walaupun pertumbuhan ekonomi di AS saat ini sudah cukup tinggi yakni sekitar 4 persen dan inflasi disana sudah mencapai sekitar 2 persen, The Fed mungkin tidak akan menaikkan suku bunga. “Karena mereka ingin pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi lagi,” katanya.
The Fed menginginkan agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi lagi dikarenakan tingkat pengangguran di AS yang masih cukup tinggi. Tingkat pengangguran di AS saat ini justru meningkat dari sekitar 5,65 persen menjadi 5,7 persen. “Dan ini menjadi perhatian utama The Fed,” katanya.
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai As saat ini, kata Halim, tidak menimbulkan efek berupa penyerapana tenaga kerja karena sektor yang mengalami pertumbuhan adalah sektor teknologi dan informasi yang tidak signifikan menyerap tenaga kerja. “Jadinya The Fed berkepentingan mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan yang ada sekarang agar meluas ke sektor lain sehingga bisa efektif menyerap tenaga kerja,” katanya.
Kalaupun nanti pada akhirnya The Fed menetapkan untuk menaikkan suku bunga di AS, pengaruhnya tidak akan signifikan karena The Fed kemungkinan hanay menaikkan suku bunga pada kisaran 0,5 sampai 1 persen. “Tidak akana siginifikan dan kita tidak juga sesensitif yang kebanyakan orang kira,” ujarnya.
Amal Ihsan —Tempo News Room





