Konsorsium Eropa, China dan Jepang Siap Danai Terowongan Jawa-Sumatera

Jum'at, 23 April 2004 | 14:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Kwik Kian Gie menyatakan terowongan yang akan menghubungkan Jawa dan Sumatera sudah diminati oleh banyak investor. “Yang berminat itu banyak, tapi yang sudah jelas baru Konsorsium Bank Eropa dan China, Jepang juga sudah siap meski belum sejelas mereka berdua, tapi saya kira Jepang siap karena dana mereka banyak,” kata Kwik di Jakarta, Jumat (23/4).

Mulai tahun depan pemerintah berencana akan membangun terowongan sepanjang 33 kilometer, 40 meter dibawah permukaan laut yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Total pendanaan sekitar US$ 15 miliar yang akan dibiayai oleh konsorsium Uni Eropa bersama dengan investor lokal, termasuk Pertamina, Perusahaan Gas Negara, PLN, Telkom, Indosat, PT Kereta Api, dan PT Bukit Asam. Sementara pemerintah sendiri tidak akan mengalokasikan dananya untuk itu.

Terowongan yang akan dinamakan Terowongan Nusantara itu direncanakan terdiri dari dua terowongan kembar yang saling berhubungan akan dikonstruksi melalui dua fase. Masing-masing terowongan berbentuk elips ganda dengan sumbu datar sebesar 8,5 meter dan sumbu vertikal 6,6 meter dan memuat satu lajur dua arah kereta mobil listrik dengan kapasitas angkut maksimum sebesar 15.500 satuan mobil penumpang perhari.

Ketebalan tanah di atas terowongan direncanakan minimum 40 meter, seperti Dover Strait Tunnel. Kedalaman air laut di bagian atas terowongan maksimum mencapai 70 meter. Terowongan dibangun dengan tanjakan maksimum mencapai 2 persen, sedangkan jari-jari alinyemen horisontal minimum 3.000 meter.

Untuk fase pertama biaya yang dibutuhkan diperkirakan sekitar US$ 1,5 hingga 2 milyar untuk biaya konstruksi dan US$ 4 juta pertahun untuk biaya operasi, perbaikan serta perawatan. Hal tersebut mensyaratkan toll free sebesar US$ 20 per satu satuan mobil penumpang per sekali penyeberangan dengan waktu tempuh sekali penyeberangan sekitar 1 jam.

Menurut Kwik, hingga saat ini pemerintah belum final dalam melakukan feasibility study terowongan tersebut. “Belum ada kongkretnya,” katanya. Rencana pembangunan terowongan itu, kata dia, bisa berubah sesuai dengan kondisi politik di tanah air. “Karena sistem pemerintahan kita presidensial, dan tidak terlampau terikat dengan DPR, sehinga bisa berubah,” tuturnya.

Terkait hal itu, sebelumnya Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno menyatakan, pembanguan terowongan itu belum final. Pemerintah masih akan mengkaji tiga opsi yang ditawarkan, membangun jembatan, terowongan, dan dengan cara mempercepat transportasi lautnya.
"Perlu ada satu tim yang akan mengkaji dan memutuskan, apakah akan dibangun terowongan atau jembatan," katanya. Sejauh ini pemerintah belum mengambil keputusan dari tiga opsi tersebut, terutama perihal jembatan dan terowongan. Menurut Soenarno, jika direalisasikan keduanya memiliki resiko yang sama.

Pembentukan tim, menurut Kwik Kian Gie, karena sifatnya studi maka tidak mengikat, dan berasal dari beberapa elemen. “Yang akan membuat timnya adalah Bappenas, yang dipelopori oeh Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Suyonodikun, Itu masalah teknis sekali saya tidak begitu jelas,” katanya.

Soenarno mengaku belum mengetahui secara detail konsep terowongan yang diberi nama Terowongan Nusantara. Sebetulnya, kata dia, pembangunan jembatan sepanjang 25 kilometer lebih pasti pembangunannya.

Dua negara telah menyatakan minatnya, antara lain China dan Amerika Serikat. "Kalau dari China waktu ke sini dan sudah disampaikan oleh Presiden pada pertemuan yang lalu, mereka menyampaikan jadwal, paling tidak dua tahun untuk melakukan penelitian dan observasi secara mendalam," katanya.

Karena termasuk kategori jembatan yang panjang dan kelasnya sudah kelas dunia. Selain itu, ada masalah teknis yang masih harus dikaji secara mendalam seperti kemungkinan berbagai terjadinya bencana seperti gunung masih aktif.

Menanggapi hal tersebut Kwik menyatakan, pembangunan dua opsi itu sama-sama penting. “Semua urgent, kalau menurut Pak Suyono terowongan yang lebih bisa untuk transportasi dan sebagainya,” katanya.

Danto – Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: