Mei,UOB Singapura Masuk Ke Bank Buana
Jum'at, 23 April 2004 | 17:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:United Overseas Bank Singapura (UOB) kemungkinan segera masuk dalam kepemilikan saham PT Bank Buana Indonesia Tbk pada Mei ini. Bank terbesar di Singapura ini sedang dalam proses uji tuntas atau due diligence pembelian 23 persen saham Bank Buana.
"Diharapkan semuanya tuntas paling lambat sebelum akhir Mei atau paling lambat akhir Mei," kata direktur bank ini, Pardi Kendy usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, di gedung Bank Buana, Jakarta, Jumat (23/4).
UOB akan mengambil alih sekitar 40 persen saham milik PT Sari Dasa Karsa serta sekitar 20 persen saham milik IFC dan Makindo. "Total menurut rencana tetap 23 persen dari seluruh saham," kata dia. Namun, tegasnya, komposisi secara keseluruhan masih menunggu selesainya uji tuntas pembelian saham ini.
UOB, kata Pardi, merupakan bank Internasional yang sudah bergerak di berbagai negara. Menurutnya, bank ini sudah mempunyai jaringan yang sangat baik di tingkat regional. "Di Indonesia tentu memerlukan suatu kekuatan," kata dia.
Sebaliknya, lanjut dia, Bank Buana juga memerlukan akses untuk memasuki pasar internasional melalui jaringan UOB. Selain itu, tambahnya, ada kemungkinan saling menukar produk unggulan. "Intinya mengarah kepada sinergi yang akhirnya juga efisiensi," kata dia.
Pardi mengatakan dana hasil penjualan saham ini sepenuhnya menjadi milik pemegang saham. Menurutnya dana ini tidak memberikan kontribusi terhadap peningkatan aset Bank Buana. Tujuan pembelian saham ini, kata dia, adalah mengembangkan usaha perseroan dan meningkatkan efisiensi. "Ini jadi salah satu komitmen kuat pemegang saham untuk pengembangan bisnis jangka panjang," kata dia.
Sampai 31 Desember 2003, komposisi kepemilikan saham Bank Buana masih didominasi oleh PT Sari Dasa Karsa (55,45 persen). Selain itu, International Finance Corporation (IFC) mempunyai 6,72 persen saham, PT Makindo Tbk (5,97 persen) dan saham publik (31,86 persen).
Total saham Bank Buana yang beredar sampai akhir 2003 ini mencapai hampir 5 miliar dengan nilai bukunya Rp 1,7 triliun. Sementara harga saham tertinggi dalam tahun 2003 mencapai Rp 825 dan terendah Rp 500 per lembar saham.
Direktur Utama, Jimmy Kurniawan Laihad mengatakan Bank Buana akan berusaha menjadi bank berskala nasional dalam beberapa tahun mendatang sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, modal dasar yang diatur dalam anggaran dasar Bank Buana meningkat dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 4,5 triliun.
Total aktiva juga mengalami pertumbuhan 7,93 persen dari Rp 13,3 triliun pada 2002 menjadi Rp 14,3 triliun pada 2003. Sementara tingkat kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 22,32 persen per akhir tahun 2003.
Yandi MR – Tempo News Room





