Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25

Selasa, 27 April 2004 | 13:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan asumsi harga minyak mentah dunia dalam RAPBN 2005 US$ 22-25 per barel. Asumsi itu lebih besar dari APBN tahun ini yang hanya mematok pada harga US$ 22 per barel. Sedangkan target produksi diusulkan 1,1 juta barel per tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Selasa (27/4), mengatakan asumsi harga minyak yang terlalu tinggi akan berdampak pada banyak hal, di antaranya pembengkakan biaya (belanja) dan subsidi. Karena itu pemerintah harus melihat secara realistis kemungkinan tercapainya harga sesuai dengan angka yang diasumsikan.

Purnomo menjelaskan departemennya sedang menyiapkan dua alternatif. Pertama, posisi konservatif seperti sekarang ini di mana harga minyak dipatok pada US$ 22 per barel. Pilihan lain, pemerintah menggunakan asumsi yang lebih tinggi sehingga APBN tahun depan memiliki harga minyak yang mendongkrak pendapatan.

Saat ini kajian sedang dilakukan bersama Departemen ESDM dengan Depkeu. Untuk itu, komunikasi dengan Sekretariat OPEC di Jenewa terus dilakukan. Pemerintah ingin memperoleh informasi dan perkiraan minyak mentah harga tahun depan.

Purnomo sendiri memprediksi kuartal kedua tahun ini kemungkinan harga minyak masih tinggi. "Kalau kita bisa melewati kuartal musim semi ini (sampai Juni) harga masih tinggi, maka tahun depan harga bisa tetap tinggi di atas US$ 22 per barel," ujarnya.

Mengenai kemungkinan membengkaknya subsidi BBM akibat tingginya harga minyak tahun ini, Purnomo mengatakan pembengkakan itu belum bisa dipastikan saat ini karena tahun anggaran 2004 baru dilalui selama kuartal pertama. Untuk melihat pembengkakan subsidi, harus dilihat perjalanan anggaran hingga akhir tahun. Departemen ESDM sendiri baru akan mengajukan masalah subsidi itu pada pembahasan APBN Perubahan 2004 mendatang.

Purnomo menambahkan, Pertamina juga mengajukan usulan untuk meningkatkan jatah subsidi, terutama volume konsumsi BBM di APBN. Pertamina meminta asumsi volume konsumsi dinaikkan 2,5 persen dari 61 juta kiloliter karena belakangan ada kecenderungan peningkatan konsumsi, terutama minyak tanah.

Retno Sulistyowati - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: