Dunia Usaha Minta BI Intervensi Rupiah

Rabu, 28 April 2004 | 18:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kalangan dunia usaha meminta Bank Indonesia untuk mengintervensi Rupiah. "Kami minta BI memanage moneter, supaya rupiah tidak lebih dari Rp 9 ribu," kata Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto, di Jakarta, Selasa (12/5) sore.

Menurut Djimanto, kisaran aman nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika adalah Rp 8.500 sampai Rp 9 ribu. "Pokoknya inilah level aman bagi pengusaha, asal rupiah tidak over value. Jadi sekarang masih beranilah kita berdagang," kata dia, di sela-sela pertemuan Apindo dengan salah satu calon wakil presiden, Jusuf Kalla.

Nilai tukar rupiah yang sempat merosot ke posisi Rp 9 ribu per dollar AS siang ini, menurut Djimanto, belum memberikan dampak langsung kepada pengusaha. "Masih bisa. Kita masih ada cadangan sedikit. Asal jangan lebih dari Rp 9 ribu," katanya.

Menurut dia, nilai tukar yang fluktuatif tidak masalah, asal pergerakannya tidak terlalu tinggi. "Kalau seperti itu masih bisa dimanage. Yang pusing itu, kalau fluktuatifnya cepat, dan pergerakannya juga tinggi," jelas dia.

Untuk itu, dunia usaha meminta BI mengintervensi rupiah supaya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak semakin melemah. "Level Rp 9 ribu ini sudah harus diturunkan," katanya. Saat ini, ketergantungan dunia usaha terhadap bahan baku impor masih tinggi. "Impor content kita masih tinggi," jelasnya. Ia mencontohkan sektor manufaktur masih banyak bergantung dengan bahan baku dari luar. Cost of fund dan cost of raw material masih tinggi dan amat tergantung pada asing," katanya.

Namun, menurut Djimanto, jika posisi rupiah terhadap Dollar AS terlalu menguat juga menjadi masalah. "Oh iya, karena berpengaruh pada pasar ekspor. Rupiah yang didapat pengusaha terlalu kecil," katanya. Kalau sudah begitu, jelas dia, kebanyakan pengusaha akan bermain di pasar kombinasi. "Mereka akan lebih banyak memilih ekspor daripada memenuhi pasar dalam negeri. Karena dapat rupiah lebih banyak," kata dia.

Anastasya Andriarti - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim