Pembiayaan DAS Masih Tergantung Pinjaman Luar Negeri

Selasa, 04 Mei 2004 | 18:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah sampai saat ini masih tergantung pada pinjaman luar negeri untuk mendanai perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS). Sedangkan untuk mengandalkan dana dalam negeri masih belum mampu karena membutuhkan biaya yang sangat besar.

"Kalau hanya mengandalkan dana dalam negeri hanya dapat dipergunakan untuk biaya perawatan saja, namun
untuk perbaikan tetap harus mengandalkan utang luar negeri," kata Sekretaris Dirjen Sumber Daya Air
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Mochamad Amron, di Jakarta, Selasa (4/5).

Amron mengatakan hal itu menanggapi pernyataan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat yang menuntut agar
pemerintah tidak mengandalkan utang luar negeri dari Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk perbaikan DAS. Menurut dia, dari sebanyak 22 DAS tahun 1980 yang mengalami kritis, saat ini jumlahnya sudah bertambah
menjadi 59 DAS yang membutuhkan penanganan segera.

Dari sebanyak 59 DAS terdapat dua kawasan yang dibiayai ADB, namun saat ini pekerjaannya tertunda karena berbagai permasalahan yakni Sungai Citanduy-Segara Anakan (Kabupaten Cilacap Jawa Tengah) dan Sungai Belawan-Deli (Sumatera Utara).

Jika di Citanduy-Segara Anakan lebih disebabkan adanya sekelompok masyarakat yang khawatir lingkungannya akan terganggu dengan adanya perbaikan di hulu sungai, sementara di Belawan-Deli lebih disebabkan belum
selesainya masalah pembebasan lahan. Padahal penanganan kedua sungai itu sudah sangat mendesak untuk mengantisipasi terjadinya kecepatan pengendapan (sedimentasi) yang sering terjadi di muara sungai.

Untuk perbaikan DAS Citanduy, Pemerintah telah menyiapkan dua program yakni pembangunan sodetan namun
mendapat tentangan keras dari masyarakat di sekitar aliran sungai, serta melakukan konservasi alam di hulu
sungai. Padahal menurut Amron, sudah ada kajian dari IPB dan ITB menyangkut pembangunan sodetan itu tidak
akan mengganggu lingkungan pada masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan biaya komitmen (commitmen fee) jika perbaikan DAS itu jadi
direalisasikan sebesar 1,5 juta dolar AS, sedangkan untuk Sungai Citandui sendiri dialokasikan menerima
pinjaman 28,215 juta dolar AS dari ADB, kemudian untuk se Jawa dana ADB yang disiapkan untuk perbaikan DAS
sebesar 88,205 juta dolar AS. "Pemanfaatan pinjaman luar negeri termasuk dana ADB untuk mendanai perbaikan DAS sangat tergantung hasil kajian dari master plan, jika ternyata butuh dana yang besar maka membutuhkan pinjaman luar negeri, ujarnya.

Menjawab pertanyaaan, mengapa pemerintah tidak memanfaatkan debt to nature swap (utang yang dapat
dipertukarkan dengan lingkungan) untuk perbaikan DAS, menurut Amron, usulan itu memang bagus namun sulit
direalisasikan karena menyangkut kesepakatan dua negara (hubungan bilateral).

Menurut dia, meskipun pemerintah mendapatkan bantuan (grant) dari luar negeri untuk perbaikan DAS, namun
sifatnya hanya untuk penyediaan tenaga teknis serta persiapan master plan, sedangkan untuk pembangunan
fisik tetap harus mengandalkan pinjaman meskipun menggunakan bunga yang lebih lunak dan masa tenggang
(grass period).

Danto - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim