El Nusa Ikuti Tender di Kangean

Selasa, 04 Mei 2004 | 19:23 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: PT El Nusa berminat untuk membeli saham British Petroleum (BP) Indonesia di lapangan gas Kangean, Jawa Timur. Anak perusahaan PT Pertamina (Persero) itu telah memasukkan dokumen penawarannya.

Dirut Pertamina, Ariffi Nawawi, di Jakarta, Selasa (4/5), mengaku telah memberikan persetujuan atas rencana pembelian saham BP Kangean tersebut. Persetujuan itu diberikan pada saat El Nusa melaporkan masalah itu ke direksi Pertamina beberapa waktu lalu. "Kalau dia mau ikut, silakan saja," kata dia.

Ariffi menjelaskan, secara prinsip Pertamina mendukung rencana pembelian saham tersebut asal sesuai dengan kemampuan keuangan perusahaan. Pertamina justru menilainya sebagai kesempatan atau peluang yang bagus, sehingga layak untuk diambil. Apalagi cadangan gasnya sangat besar, sekitar satu triliun kaki kubik (triliun cubic feed/tcf). Selain itu, di lapangan tersebut telah ada jaringan pipa gas yang memudahkan distribusi.

"Itu kesempatan yang bagus, kenapa nggak diambil," katanya. Pertamina sendiri memang tidak mengikuti tender di Kangean itu. Bagi Pertamina, kata Ariffi, keikutsertaan El Nusa sudah cukup mewakili. "Pertamina dan El Nusa kan sama saja."

Namun Ariffi tidak bisa menyebutkan berapa nilai penawaran yang diajukan El Nusa. Dalam pertemuan itu, El Nusa juga tidak menjelaskan secara rinci berapa persen saham yang ingin dimiliki. Masalah itu seharusnya dibicarakan dengan komisaris El Nusa.

Perusahaan migas lain yang juga mengikuti pross tender di Kangean adalah Medco Energy. Perusahaan pimpinan Hilmy Panigoro itu telah meemasukkan dokumen penawaran sejak Maret lalu.

Sebelumnya, pemerintah mempertanyakan penjualan saham oleh BP Kangean. Karena pada saat yang sama BP sedang mengajukan perpanjangan kontrak. Rencana penjualan 100 persen saham BP itu memberikan kesan bahwa permintaan perpanjangan kontrak tidak serius. Karena itu, rencana penjualan tersebut menjadi poin bagi pemerintah untuk menolak atau memberikan persetujuan perpanjangan kontrak.

Kontrak BP di lapangan tersebut akan habis pada tahun 2010 mendatang. Sejak tahun lalu, perusahaan migas asal Inggris itu mengajukan perpanjangan kontrak hingga 2025. Namun hingga kini belum ada persetujuan pemerintah. BP adalah kontraktor bagi hasil di dua lapangan gas tersebut. Permintaan perpanjangan kontrak yang diajukan BP menuai polemik, karena BP dinilai cacat dalam mengelola blok tersebut, misalnya tidak bisa memenuhi kewajibannya memasok gas hingga 600 juta kaki kubik per hari. Saat itu BP hanya mampu menyediakan 200 juta kaki kubik.

Retno Sulistyowati - Tempo News Room

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: