Impor Gula Tak Lagi Manis

Kamis, 13 Mei 2004 | 11:32 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Mendatangkan gula impor pada masa sekarang tak lagi menjanjikan keuntungan. Harga gula di tingkat internasional yang meningkat, ditambah nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang menguat, menjadi kendala bagi importir gula. "Cuma penyelundupan yang manis sekarang," kata Ketua Asosiasi Pengusaha dan Distributor Gula Indonesia, Hans Maramis, saat dihubungi Tempo News Room, Kamis (13/5).

Memasukkan gula impor di tengah harga internasional yang tinggi dan nilai tukar Rupiah yang mencapai Rp 9 ribu, rugi. "Jatuhnya bisa Rp 3.700 per kilogram. Karena harus membayar bea masuk dan sebagainya," jelas dia. Kalau sudah begini, menurut Hans, lebih baik membeli gula dari petani dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah Rp 3.410 per kilogram.

Untuk itu, meski dirasa masih menguntungkan, mendatangkan gula ilegal yang tidak membayar bea masuk, menurut Hans, arus impor gula ilegal akan semakin berkurang karena pengaruh dari luar itu. "Kami tertolong secara alamiah," katanya.

Penyelundupan gula yang marak terakhir ini, diakui telah memberatkan pedagang gula seperti dirinya. "Bayangkan kami harus menyangga gula petani dengan harga Rp 3.410 per kilogram," kata dia. Sementara gula ilegal itu bisa saja merembes ke masyarakat dan akhirnya mendistorsi pasar. "Kami cuma jadi bemper," kata dia. Namun ia tidak bisa berkomentar soal penyelidikan atas pemilik gula ilegal sebanyak 167 kontainer yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok. "Biar itu jadi urusan aparat," katanya.

Anastasya Andriarti - Tempo News Room

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: