Pemerintah Jamin Tidak Ada Pemadaman Listrik Jawa-Bali

Kamis, 13 Mei 2004 | 16:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menjamin keamanan pasokan listrik sistem Jawa-Bali, menyusul kelangkaan batubara di PLTU Suralaya serta kerusakan di pembangkit Paiton dan PLTGU Muara Karang. Dipastikan tidak akan terjadi pemadaman listrik secara bergantian.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yogo Pratomo, di Jakarta, Kamis (13/5), mengatakan kekurangan pasokan batubara itu memang memprihatinkan karena telah terjadi sejak akhir tahun lalu. Karena itu, pihaknya terus berupaya mengatasi masalah tersebut. Misalnya dengan mencari pasokan tambahan ke produsen lain.

Berdasarkan kontrak yang ditandatangani dengan PLN, PT Bukit Asam (PTBA) harus mensuplai batubara ke Suralaya sesuai dengan kebutuhan. Tahun ini ditargetkan suplai bisa mencapai 6,7 juta ton. Dengan adanya gangguan sistem transportasi maka PTBA berjanji untuk mencarikan pengganti. "Masalahnya harga batubara saat ini relatif lebih mahal dari biasanya," ujarnya.

Tingginya harga batubara di pasar dunia saat ini dikarenakan volume permintaan yang tinggi. Hal itu dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Cina yang lebih mengutamakan impor daripada menggunakan batubara produksinya.

Seperti diberitakan, gangguan pasokan batubara di Suralaya disebabkan rusaknya sistem transportasi. Tiang jembatan rel kereta di Martapura anjlok sejak Desember lalu. Padahal PTBA tergantung pada kereta api untuk mengangkut batubara dari areal pertambangannya di Tanjung Enim ke Tarahan, Sumatera Selatan.

Belakangan, kerusakan makin parah akibat banjir yang kembali melanda wilayah tersebut. Sehingga PTBA harus mengurangi lagi volume batubara yang diangkut dari 50 ribu ton per gerbong menjadi 40 ribu ton saja.

Menurut Yogo, yang paling penting dalam menyelesaikan masalah Suralaya adalah memperbaiki jalur kereta api harus segera diselesaikan. "Di situ letak permasalahan yang harus diselesaikan," ujarnya.

Ditargetkan, perbaikan akan memakan waktu dua bulan hingga Juni mendatang. Kalau bisa lebih cepat akan lebih baik karena itu berarti suplai bisa segera normal kembali. Diharapkan pada saat pemilihan presiden nanti suplai sudah normal kembali. sehingga pasokan listrik akan aman.

Alternatif lain adalah mengalihkan penggunaan bahan bakar dari batubara ke BBM. Namun hal itu tidak mudah mengingat mesin-mesin di sana didesain untuk bahan bakar batubara. Sehingga untuk mengkombinasikan bahan bakar dibutuhkan waktu pengaturan. Selain itu, penggunaan BBM membutuhkan biaya produksi yang jauh lebih mahal. "Artinya kalaupun alternatif itu yang dipakai, sebisa mungkin penggunaan BBM tidak lama, sesingkat mungkin," kata dia.

Kendati demikian, lanjutnya, gangguan di Suralaya itu tidak akan mengakibatkan krisis listrik dalam sistem Jawa-Bali. Ia mengaku pada saat yang sama memang terjadi juga perbaikan pembangkit listrik Paiton dan PLTG Muara Karang.

"Namun kalau cadangan layaknya tidak turun secara drastis maka kita masih bisa atasi. Sejauh ini aman," ujarnya. Besarnya cadangan sistem Jawa-Bali dalam keadaan normal adalah 500 Mega Watt. Namun Yogo tidak bisa menyebutkan besarnya cadangan saat ini.

Ia berharap perbaikan pembangkit Paiton bisa diselesaikan lebih cepat. Demikian pula dengan perbaikan PLTG Muara Karang.

Retno Sulistyowati - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: