90 Persen Bahan Baku Farmasi Diimpor
Sabtu, 15 Mei 2004 | 19:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 90 persen bahan baku industri farmasi hingga saat ini merupakan produk impor. "Ini yang menyebabkan industri farmasi mudah goncang jika terjadi fluktuasi mata uang," ujar Marketing Director PT Phapros, Joko Triyono, kepada wartawan, Sabtu (15/5).
Menurut Joko, 80 persen dari harga pokok ditentukan oleh bahan baku, sehingga dengan harga dolar yang saat ini mencapai kisaran Rp 9 ribu, beberapa industri farmasi sudah mengalami kegoncangan. "Kita mulai hitung-hitung ulang, untungnya sedikit sekali," ujarnya.
Jika harga dolar terus melonjak, kata Joko, maka banyak perusahaan farmasi yang akan gulung tikar. Untuk mengatasi hal ini, ia mengajak para pelaku bisnis farmasi untuk mulai mengembangkan produk yang berbahan baku lokal. "Tumbuh-tumbuhan lokal bisa dimanfaatkan, lebih murah dan tak terpengaruh kenaikan dolar," tambahnya.
Sejak 1999 PT Paphros menjadi perusahaan pertama yang mulai menggunakan metode ini. Hasilnya, dengan omset Rp 338 milyar, perusahaan ini dapat meraih keuntungan sebesar Rp 34 milyar pada 2003. Produk-produk berbahan baku lokal yang telah dilepas antara lain tensigaed (hipertensi), hipagaet (proteksi hati), dan ocugaed (mata).
Mawar Kusuma - Tempo News Room





