Peluang TPT di Pasar Uni Eropa Terbuka

Kamis, 27 Mei 2004 | 15:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pasar Uni Eropa masih sangat potensial bagi tujuan ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia (TPT). Saat ini rata-rata pasar Uni Eropa menyerap tidak kurang dari 31 persen impor pakaian dunia.

"Pengeluaran konsumsi masyarakat Uni Eropa untuk pakaian memperlihatkan peningkatan dari tahun ke tahun. Data terakhir jumlah konsumsi tahun 2001 untuk pakaian sebesar 263.179 juta euro," kata Sondang AS, Atase Perindustrian dan Perdagangan di Brussel dalam seminar TPT di Balai Sidang Jakarta, Kamis (27/5).

Menurut Sondang, meskipun ada beberapa peraturan yang mungkin bisa membatasi produk tekstil Indonesia masuk ke sana, setelah Amerika, Uni Eropa merupakan pasar ekspor produk tekstil Indonesia yang terbesar.

"Menghadapi penutupan kuota sesuai dengan perjanjian yang diatur dalam WTO (organisaasi perdagangan dunia), pelaku tekstil di Indonesia harus bersiap. Apalagi mereka sudah menyiapkan sejumlah aturan yang akan menjadi filter bagi produk negeri berkembang yang harganya relatif lebih murah," kata dia.

Uni Eropa, jelas Sondang, tentu khawatir pasarnya akan dibanjiri produk negara berkembang yang kualitasya semakin baik dan harganya lebih murah. Untuk itu pelaku usaha di Indonesia harus memahami bahwa negara-negara Uni Eropa telah meningkatkan proteksi melalui technical barrier to trade seperti pencantuman lebel dan penghormatan pada hak atas kakayaan intelektual (HAKI) serta standar buruh dan lingkungan.

"Biasanya produk Indonesia terganjal masalah ketidaktaatan HAKI dan belum mencantumkan label," kata dia.

Sementara industri TPT Uni Eropa sendiri yang selama ini diproteksi, terus meningkatkan daya saingnya supaya tidak kalah dengan produk ekspor dari negara berkembang. "Ini membuat posisi Indonesia semakin dihimpit persaingan," kata dia.

Saat ini tarif TPT yang berlaku di Uni Eropa relatif rendah dibanding tarif di negara lain, khususnya bagi negara anggota WTO. "Tarif yang berlaku bagi TPT berkisar antara 0 sampai 8 persen untuk tekstil, dan 8-12 persen untuk pakaian jadi," kata Sondang.

Menurutnya, produk Indonesia yang digemari di sana adalah pakaian dan celana yang menyasar kalangan menengah ke bawah. Sementara untuk industri pakaian Uni Eropa lebih berkonsentrasi bagi pengembangan produk pakaian jadi berdasarkan desain dari desainer. Jadi lebih menyasar pada kalangan menengah ke atas yang dilihat dari struktur penduduk dunia relatif lebih kecil.

"Hal ini tetap menjaga peluang produk negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, untuk memasok pakaian jadi bagi kelompok konsumen tertentu," kata Sondang.

Indonesia, paparnya, sudah seharusnya memiliki cetak biru bagi industri TPT ke depan, karena berdasarkan pengalaman dari masing-masing atase perdagangan di negara-negara lain, produk TPT apapun bisa dijual. "Tidak hanya yang berkualitas bagus, asal kita punya positioning yang jelas," katanya.

Anastasya - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim