Kebijakan Tata Niaga Tidak Selesaikan Persoalan

Rabu, 09 Juni 2004 | 16:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom Universitas Indonesia M. Chatib Basri menyatakan kebijakan tata niaga gula tidak menyelesaikan persoalan. "Tidak hanya tidak efektif, tapi memang tidak ada gunanya tata niaga itu," kata dia di Jakarta, Rabu (9/6).

Menurut Chatib, saat ini yang harus diupayakan adalah bagaimana meningkatkan produktivitas. "Sebenarnya, solusinya menghindari berbagai penyelundupan, sangat mudah. Jangan membuat disparitas harga sebuah komoditi di dalam negeri dengan harga internasional terlalu tinggi. Kalau begitu orang pasti nyelundup," kata dia.

Menperindag Rini Soewandi telah mengeluarkan SK Nomor 643/2002 untuk mengatur tata niaga impor gula. Hanya ada sejumlah produsen yang mendapat izin impor (importir produsen) dan lima perusahaan yang mendapat izin sebagai importir terdaftar (IT). Tapi, tetap saja penyelundupan gula marak terjadi.

Awal Maret lalu, Bea Cukai Tanjung Priok menahan 179 kontainer gula asal Thailand, Malaysia, dan India. Belum lagi pelakunya diketahui, akhir Mei lalu datang lagi gula ilegal sebanyak 8.750 ton.

Chatib menegaskan, penyelundupan akan berhenti dengan sendirinya apabila perbedaan harga domestik dan internasional rendah atau sama. "Kalau begitu situasinya, pasti tidak akan ada penyelundupan," kata dia.

Dari data yang ada, kata Chatib, saat harga komoditas seperti beras atau gula meningkat, yang lebih menikmati keuntungan bukan petani. "Data menunjukan 60 persen petani beras merupakan net consumer," kata dia.

Secara sederhana, jelasnya, bila seseorang itu miskin sebagaian besar konsumsi habis untuk membeli beras. Jadi, mau tidak mau produktivitas harus ditingkatkan. "Yang saya lihat sekarang, pemerintah senang dengan kebijakan yang ad hoc, tapi nggak tahu bagaimana ke depan," katanya.

Anastasya Andriarti - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim