Indonesia akan Diskon LNG untuk Korea
Selasa, 22 Juni 2004 | 10:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah kemungkinan akan memenuhi permintaan Korean Gas (Kogas) untuk memberi potongan harga sebesar 40 persen dalam pembelian gas alam cair (Liquid Natural Gas LNG). Diskon akan diberikan bila perusahaan asal Korea itu bersedia memperpanjang kontrak pembelian selama 20 tahun.
Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), Rachmat Soedibyo, di Jakarta, Selasa (22/6) mengatakan permintaan potongan harga itu disampaikan Kogas beberapa waktu lalu. Kontrak jangka panjang mereka dengan lapangan gas Arun, Aceh, akan berakhir tahun 2007 mendatang. "Penurunan harga itu bisa dipertimbangkan bila ada perpanjangan kontrak selama minimal 20 tahun," kata dia.
Ia menjelaskan, kebijakan untuk memberikan diskon merupakan masalah strategi pemasaran. Ia mengaku, memang tidak sulit untuk bisa memenuhi permintaan tersebut. Apalagi, pada saat harga mintak mentah dunia sedang melambung seperti saat ini yang mengakibatkan harga LNG.
Masalah potongan harga itu akan dibicarakan lebih dalam antara Indonesia dengan Korea. Rencananya, dalam waktu dekat BP Migas akan berangkat ke Korea untuk melakukan negosiasi. Berbagai pendekatan akan dilakukan untuk memperoleh perpanjangan kontrak dari Korea.
menurut Rachmat, masalah harga saat ini cukup kompetitif, terutama karena banyaknya produsen gas yang baru masuk seperti Brunai Darrusalam, Timur Tengah dan Australia. Karena itu, Pemerintah akan mengupayakan harga yang kompetitif.
Ia menilai, masalah harga sebenarnya berkaitan dengan jangka waktu kontrak. Bila kontraknya jangka panjang, maka harga semakin kompetitif, sebaliknya bila kontrak jangka pendek maka harga lebih tinggi.
Dalam kunjungan ke Korea itu, Pemerintah juga akan meminta keistimewaan (previllage) dari Korea, mengingat ini merupakan perpanjangan kontrak. Ia yakin, Kogas memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk memenuhi atau menolak permintaan tersebut.
Rachmat optimis mampu bersaing karena Indonesia memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, dari sisi suplay, Indonesia merupakan suplayer yang dipercaya. Kendati sempat terjadi kekurangan pasokan beberapa waktu lalu, kata dia, hal itu sifatnya sementara saja.
Kelebihan lain, jarak Indonesia-Korea jauh lebih dekat dibandingkan produsen gas lain seperti dari Timur Tengah. Diakui harga gas dari Timur Tengah memang rendah, karena biaya produksi mereka rendah dan cadangannya berlimpah. "Persaingan harga memang cukup ketat, tapi kita tidak mau terlalu membanting harga," kata dia.
Retno Sulistyowati – Tempo News Room





