Ekspor Bulanan Indonesia di Atas US$ 5 Miliar
Senin, 02 Agustus 2004 | 19:05 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Selama empat bulan terakhir ekspor bulanan Indonesia masih di atas US$ 5 miliar. Hal itu tercermin dari nilai ekspor pada bulan Juni 2004 sebesar US$ 5,69 miliar atau lebih tinggi 3,57 persen dibanding ekspor Mei yang hanya US$ 5,5 miliar.
"Secara kumulatif, ekspor semester I 2004 mencapai US$ 31,41 miliar atau naik 3,14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," kata Kepala Badan Pusat Statistik Choiril Maksum saat mengumumkan nilai ekspor dan impor di Jakarta, Senin (2/8).
Angka US$ 5 miliar merupakan angka ambang kritis nilai ekspor Indonesia. Jika nilai ekspor bulanan di bawah angka itu, pemerintah harus bersiap memakai cadangan devisa untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah untuk meredam defisit anggaran.
Maksum menambahkan, pada Juni 2004 nilai ekspor kertas/karton paling tinggi sebesar US$ 92 juta dibanding nilai ekspor nonmigas lainnya yang totalnya mencapai US$ 4,34 miliar.
Ekspor nonmigas ini, kata Maksum, naik 4,54 persen dibanding bulan sebelumnya dan naik 2,21 persen dibanding semester I tahun 2003. Sementara penurunan nilai ekspor terjadi pada komoditas mesin-mesin pesawat/mekanik sebesar US$ 177,6 juta.
Amerika Serikat merupakan negara yang menerima komoditas Indonesia paling tinggi dibanding negara tujuan ekspor lainnya dengan angka ekspor Juni sebesar US$ 657,9 juta, disusul Jepang dengan US$ 654,2 juta dan Singapura US$ 370,8 persen. Ketiga negara itu menyumbang nilai ekspor sebesar 38,8 persen terhadap total nilai ekspor ke sembilan negara.
Nilai ekspor migas pada Juni juga naik dibanding Mei sebesar US$ 1,35 miliar. Secara kumulatif, ekspor migas pada semester I tahun ini naik 6,29 persen dibanding semeseter I tahun lalu. Ekspor gas menempati urutan paling tinggi sebesar US$ 3,51 miliar dibanding minyak tanah dan hasil minyak pada semeseter I ini.
Menurut Maksum, kanaikan nilai ekspor ini dipengaruhi oleh besarnya permintaan dari negara tujuan. Sementara melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika tak terlalu berpengaruh terhadap nilai ekspor pada Juni.
"Penurunan rupiah kan baru kemarin-kemarin saja, sementara transaksi ekspor sudah berlangsung lama," katanya. Meski, menurutnya, penguatan nilai dolar akan menyebabkan harga-harga komoditas ekspor juga naik.
Bagja Hidayat - Tempo News Room





