BI Akan Serap Likuiditas untuk Redam Inflasi
Senin, 09 Agustus 2004 | 09:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menyatakan, bank sentral akan melakukan langkah-langkah penyerapan likuiditas dalam jumlah cukup besar di pasar untuk mengerem laju inflasi.
Meski begitu, Burhanuddin menambahkan, tidak selalu berarti bank sentral akan menaikkan suku bunga. "Bisa dengan cara-cara lain," ujarnya kepada Tempo News Room di Jakarta kemarin.
Misalnya, ia mencontohkan, "Beberapa waktu lalu kami mengubah (ketentuan) giro wajib minimum (yang harus dipenuhi perbankan)." Dari kebijakan baru itu, jumlah uang beredar yang bisa diserap BI dari perbankan mencapai Rp 18 triliun.
Menurut Burhanuddin, langkah pengetatan likuiditas dipandang perlu untuk mengerem laju kenaikan harga-harga secara umum (inflasi). Namun, ia kembali menegaskan, kalaupun ada kenaikan suku bunga, BI akan melakukannya secara bertahap.
Sinyal pengetatan likuiditas sebelumnya telah diungkapkan Burhanuddin sehari setelah Badan Pusat Statistik mengumumkan angka inflasi pada 2 Agustus lalu. Menurut laporan BPS, inflasi periode Januari-Juli telah mencapai 3,69 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2003. Laju inflasi Juli 2004 terhadap Juli 2003 (year on year) bahkan mencapai 7,2 persen.
Tingginya tingkat inflasi itu menimbulkan kekhawatiran berbagai kalangan bahwa pemerintah kemungkinan besar akan sulit mencapai target inflasi hingga akhir tahun ini yang dipatok 6,5 persen.
Menyikapi keadaan itu, BI langsung memperketat likuiditas dengan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia untuk jangka waktu satu bulan menjadi 7,37 persen dari sebelumnya 7,36 persen. "Kecenderungan kebijakan kami di masa depan adalah memperketat likuiditas," ujar
Burhanuddin saat itu. "Kami tahu, inflasi year on year sebesar 7,2 persen merupakan serangan yang cukup kuat."
Di sisi lain, Burhanuddin menyatakan, bank sentral akan terus mengawal rupiah guna mengantisipasi memanasnya suhu politik menjelang digelarnya pemilihan presiden tahan kedua, 20 September. "Fluktuasi (kurs rupiah) yang sangat besar akan mengganggu dunia usaha," katanya. "Karena itu, kami akan selalu standby (siaga) di pasar."
Terkait dengan itu, menurut dia, BI akan berkoordinasi dengan pemerintah, badan usaha milik negara, maupun kalangan swasta untuk mengetahui besarnya kebutuhan mata uang dolar untuk kepentingan impor dan pembayaran utang.
Kepala Fixed Income Mandiri Securities Kahlil Rowter mengatakan, rencana penyerapan likuiditas oleh BI merupakan langkah tepat. "Kebijakan ini sudah umum dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia untuk menekan laju inflasi," ujarnya. Apalagi, "Inflasi (Juli 2003-2004) sudah di atas target, sehingga penyerapan likuiditas otomatis harus dilakukan."
Namun, Kahlil menjelaskan, tingginya inflasi saat ini lebih disebabkan oleh faktor melemahnya nilai tukar rupiah. "Jadi, kalau pemerintah mau menstabilkan inflasi, harus menstabilkan nilai tukar rupiah," ujarnya.
Erwin Dariyanto - Tempo News Room





