Pemegang Saham Pikko Tuntaskan Suntikan Modal

Kamis, 12 Agustus 2004 | 17:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemegang saham PT Bank Pikko Tbk, Chinkara Capital Limited telah membayarkan suntikan dana sebesar US$ 30 juta untuk persiapan penggabungan atau merger dengan PT Bank Danpac Tbk dan Bank CIC Internasional Tbk. Suntikan dana ini menggelembungkan rasio kecukupan modal Pikko menjadi 47 persen pada paruh tahun 2004 ini. Rasio kecukupan modal sebelumnya hanya 8,16 persen.

Direktur Bank Pikko, Ridwan Susanto mengatakan suntikan dana ini diberikan secara bertahap. Menurutnya pemegang saham asal Singapura ini telah mengucurkan dana sejak Mei 2004 lalu untuk memperkuat modal bank hasil merger. "Terakhir telah cair sebesar US$ 600 ribu Senin (9/8) kemarin," kata dia kepada wartawan di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (12/8).

Ridwan menegaskan dana ini sangat membantu kelancaran proses merger. Menurutnya modal Pikko sudah mencukupi dan bisa bersinergi dalam penggabungan ini. Meski demikian, lanjutnya, manajemen tidak menutup kemungkinan meminta tambahan dana dari pemegang saham lainnya.

Sampai akhir Juni lalu, Chinkara merupakan pemegang saham mayoritas Bank Pikko sebanyak 67 persen. Pemegang saham lainnya adalah Standard Chartered Bank Hongkong dengan jumlah kepemilikan 20 persen.

Selain menjadi pemegang saham mayoritas di Pikko, Chinkara juga merupakan memiliki 55 persen saham di Bank Danpac dan sekitar 16 persen saham CIC. Untuk itu, lanjut Ridwan, Chinkara kemungkinan masih akan menjadi pemegang saham pengendali setelah merger. Menurutnya pemegang saham yang sama ini akan mempermudah jalannya penggabungan.

Penggabungan tiga bank ini, lanjut Ridwan, masih tetap sesuai jadwal yakni Oktober 2004. Menurutnya ketiga bank telah mempersiapkan penggabungan ini sampai hal yang teknis. Masing-masing bank, lanjutnya, membentuk kelompok kerja khusus mengkaji persiapan merger. "Sebagian besar sudah selesai. Mungkin sekarang sudah memasuki tahap maping (pemetaan)," kata dia.

Direktur Pikko, Darso Wijaya mengatakan modal bank diharapkan akan mencapai Rp 2 triliun dengan aset Rp 10 triliun. Sementara rasio kecukupan modal (CAR) berada pada kisaran 10 sampai 12 persen, sedikit diatas kategori bank sehat sebesar 8 persen. Untuk itu, lanjutnya, bank merger ini akan mencari dana tambahan untuk menggenjot modal ini.

Darso mengatakan penambahan modal ini bisa melalui berbagai pilihan seperti menerbitkan saham baru atau surat utang. "Itu adalah langkah selanjutnya. Tapi kelihatannya proyeksi modal dalam tiga ke depan masih cukup," kata dia.

Mengenai kinerja Pikko sampai semester pertama, Darso mengatakan aset bank mencapai Rp 1,3 triliun. Sementara dana pihak ketiganya berjumlah Rp 1,05 triliun dengan kredit Rp 332 miliar. Darso mengatakan rasio kredit terhadap deposit atau Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 31 persen. Total kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) mencapai 4,6 persen.

Menurutnya Pikko masih bersifat konservatif dengan pencadangan kredit macet yang cukup besar sehingga belum membukukan keuntungan. Sampai semester pertama tahun ini, Pikko masih membukukan kerugian sebesar Rp 30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 38 triliun. "Posisinya negatif tapi lebih baik dari periode sebelumnya," kata dia.

Yandi MR ? Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: