Industri Agrobisnis Mengalami Krisis
Rabu, 01 September 2004 | 19:48 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Pertanian menyatakan kondisi industri agrobisnis saat ini sedang mengalami krisis. Pasalnya harga jual komoditas industri pertanian tersebut berada di bawah biaya produksi. Rendahnya harga jual tersebut membawa industri agrobisnis pada tingkat yang membahayakan kehidupan petani.
“Kalau itu (agrobisnis) merupakan single komoditi, dan harga jual dibandingkan biaya produksi, kan nggak (seimbang), selalu rugi. Nah itulah yang saya maksud SOS. SOS dari petaninya,” kata Direktur Pengembangan Perkebunan Direktorat Bina Produksi Perkebunan Deptan U.K. Anggoro di Jakarta, Rabu (1/9).
Anggoro mengatakan industri-industri pertanian yang sudah mengalami krisis antara lain pada komoditas kakao, karet dan juga teh. Kalau masalah ini tidak diperbaiki dengan segera, yang akan menjadi korban adalah petani, sebab petani lah yang menempati level paling bawah dalam rantai niaga industri tersebut.
Menurut Anggoro, secara keseluruhan, petani yang terlibat dalam industri agrobisnis ini mencapai tidak kurang 2 juta orang. "Dengan kondisi ini berarti nasib 2 juta petani terancam,” ujarnya.
Untuk komoditi teh, Anggoro mengatakan rata-rata harga internasional di atas US$ 1 per kilogramnya sesuai dengan harga produksinya. "Tapi kalau di bawah itu, rata-rata kan US$ 0,9 (harga di pasaran), kan rugi,“ tegasnya. Harga tersebut merupakan harga teh kering setelah pengolahaan pasca panen dari pohonnya.
Selain rendahnya harga jual teh, Anggoro mengatakan, kendala yang dialami petani adalah kecilnya hasil produksi saat panen. Produksi petani per hektarnya tidak lebih dari satu ton atau jauh dari harapan yang semestinya.
Muchamad Nafi – Tempo News Room





