2005, Yamaha Targetkan Penjualan 1,2 Juta Unit.
Sabtu, 04 September 2004 | 17:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Yamaha Motor Kencana Indonesia mentargetkan penjualan motor produksinya pada 2005 mendatang sebesar 1,2 juta unit. Target tersebut berdasarkan pada hasil penjualan pada tahun ini yang terus mengalami peningkatan.
Menurut Direktur PT Yamaha Dyonisius Beti kenaikan penjualan sampai Agustus 2004 kemarin sudah mencapai sekitar 450 ribu unit atau 68 persen dari penjualan tahun sebelumnya pada periode yang sama yaitu sekitar 144 ribu unit. "Kita satu-satunya yang memiliki market share setinggi itu di antara kompetitor-kompetitor yang lain," klaim Dyon di Jakarta, Sabtu (4/9).
Sampai akhir Agustus kemarin, General Manager Promosi Yamaha Asmarabudi mengatakan total penjualan semua produk Yamaha sudah mencapai 450 ribu unit. Sedang total penjualan pada tahun ini ditargetkan mencapai 870 ribu unit dari seluruh jenis tipe yang di pasarkan di Indonesia. "Dengan melihat jumlah penjualan sekarang, saya yakin target penjualan akhir tahun bisa tercapai. Demikian dengan tahun depan," kata Bambang.
Untuk mencapai target tersebut beberapa strategi telah dicanangkan. Antara lain dengan mengembangkan jaringan show room atau dealer dan juga bengkel-bengkel resmi Yamaha. "Saat ini sudah ada seribu dealer kami, kata Dyon. Sedang jika digabung dengan bengkel-bengkelnya saja maka akan berjumlah dua ribu lebih.
Selain itu Dyon juga menegaskan akan terus meningkatkan pelayanan pada saat purna jual. Salah satu bentuknya dengan tetap menyediakan suku cadang atau spare part untuk setiap produk yang telah diluncurkan. "Komitmen kami yaitu tetap akan mengadakan suku cadang produk yang ada. Paling tidak sampai 10 tahun mendatang setelah produksi produk baru tersebut," tegasnya.
Dyon juga mengatakan keseluruh unti yang ada saat ini dibuat di Indonesia. Dan bahan baku yang digunakan sebesar hampir 90 persen merupakan bahan baku lokal. "Sisanya kami impor dari luar," katanya. Bahan yang tidak dibuat di dalam negeri, katanya, karena memang saat ini belum bisa diproduksi di Indonesa. "Jadi kami harus mengimpor dari Jepang," kata Dyon.
Muchamad Nafi ? Tempo




Komentar Anda :