Pelabuhan Indonesia Hanya Sebagai Feeder

Selasa, 14 September 2004 | 18:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sampai saat ini pelabuhan di Indonesia hanya mampu berperan sebagai pelabuhan feeder bagi pelabuhan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Hongkong.

"Jadi masih belum pegang peran penting," ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahan Pelayaran Indonesia Oetoro Surya di Jakarta, Selasa (14/9).

Reformasi pelabuhan, diakui Oetoro, telah dijalankan, namun hanya terfokus pada manajemen atau pengelolaan pelabuhan. Di beberapa pelabuhan juga terjadi pembangunan seperti penambahan dermaga dan pembangunan terminal kontainer. "Tapi kita masih jauh ketinggalan dari negara lain," tambahnya.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, Oetoro mengatakan reformasi sebaiknya ditujukan ke arah peningkatan kapasitas pelabuhan, terutama pada pembangunan pelabuhan baru bertaraf internasional, antara lain dengan pembangunan Jakarta New Port (JNP) yang dapat meningkatkan ekonomi daerah dan memperluas lapangan kerja.

Dengan kehadiran JNP dapat berfungsi sebagai hub port bagi Indonesia. Sehingga pelayaran tidak perlu melakukan transhipment di Singapura atau Malaysia.

Karena hanya berfungsi sebagai feeder, kata Oetoro, selama ini 80 persen kargo kontainer untuk ekspor-impor diangkut melalui Singapura.

Pelabuhan yang telah ada, menurut Oetoro, tidak memadai untuk dikembangkan sebagai internasional hub port. Hal ini karena keterbatasan lahan dan infrastruktur. Oetoro mencontohkan untuk pekerjaan rehabilitasi Pelabuhan Tanjung priok akan memakan waktu 25 tahun.

Selain itu reformasi pelabuhan yang dikehendaki indutri pelayaran adalah adanya penghapusan monopoli atas pengusahaan pelabuhan. "Pemisahan fungsi regulator, fasilitator, operator dan pengawas harus tegas dan jelas," tambahnya. Pelabuhan juga harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi agar efisien dan produktif.

Mawar Kusuma

TOPIK






Komentar Anda

Kirim