Harga Bahan Baku Industri Sintetis Melonjak 80 Persen

Rabu, 15 September 2004 | 22:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kenikan harga menyak mentah dunia sangat mempengaruhi kondisi industri dalam negeri, di antaranya produsen serat sintetis. Harga bahan baku industri ini melonjak hingga 80 persen.

Akibat lonjakan tersebut produsen akan menaikkan harga serat sintetis di pasaran secara bertahap. “Pelan-pelan kita akan naikan harga,” kata Presiden Direktur PT Indo-Rama Synthetics J.P. Lohia kepada Tempo di Jakarta, Rabu (15/9).

Kenaikan secara gradual ini, kata dia, dilakukan agar para pembeli yang selama ini disuplai tidak merasa kaget. Dia pun berharap industri yang menkonsumsi bahan ini akan memahami kenaikan tersebut, karena permasalahan kenaikan harga minyak mentah sudah menjadi masalah global yang diketahui setiap orang.

"Semua orang memahami karena mengetahui harga minyak naik. Karena kita punya bahan baku naik semua. Ini bukan harga yang dirahasiakan,” kata Lohia. Namun demikian, Lohia mengakui naiknya harga tadi akan memperketat persaingan di pasaran internasional.

Saat ini produksi serat sintetis dalam negeri mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sebanyak satu juta ton diserap industri dalam negeri. "Sedang 200 ribu ton atau 20 persen produksi diekspor,“ jelasnya. Jumlah ekspor ini senilai dengan US$ 300 juta.

Lohia mengatakan faktor yang masih membantu Indonesia untuk tetap bersaing adalah tenaga kerja yang masih murah. Dari sini biaya produksi masih bisa sedikit lebih ditekan.

"Karena cost tenaga kerja di Korea dan Taiwan (negara penghasil serat yang cukup besar) lebih tinggi. Mereka tidak bisa bersaing. Kita (tenaga kerja) cukup kompetitif,” ujarnya.

Sementara Sekjen Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia Kustarjono Prodjolalito mengatakan produksi 1,2 juta ton serat tadi sebenarnya masih bisa ditingkatkan. Sebab jumlah tadi mengunakan utility sebesar 80 persen.

"Jika utility kita tingkatkan sampai 100 persen, maka jumlah produksi kita bisa bertambah 20 persen atau 240 ribu ton,“ katanya.

Menurut Kustarjono, jika hal ini bisa direalisasikan maka pengembangan ekspor sintetis akan lebih meluas. Saat ini, katanya, pangsa pasar ekspor yang terbesar masih ke negara-negara Eropa dan Amerika. "Sebab selain tidak banyak memproduksi, negara-negara maju juga tidak bisa bersaing dengan kita,“ katanya.

Muchamad Nafi – Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: