Bom Kuningan Hambat Hubungan Dagang Indonesia-Australia

Jum'at, 17 September 2004 | 10:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta, Kamis pekan lalu, tak hanya memakan korban jiwa dan merontokkan sejumlah bangunan di salah satu kawasan bisnis terpenting di Ibu Kota. Tragedi itu juga membuat sebagian pemodal asing kembali kehilangan kepercayaan untuk berinvestasi dan memutar roda usaha di Indonesia. Investor dan pebisnis asal Australia termasuk di antaranya.

Menurut Ketua Badan Kerja Sama Bisnis Indonesia-Australia Noke Kiroyan, akibat aksi yang menewaskan sembilan orang itu, hubungan dagang bilateral kedua negara terhambat.

Para pelaku bisnis asal Negeri Kanguru itu, kata Noke, berpikir ulang untuk melanjutkan perdagangannya dengan Indonesia. Konsekuensinya, volume perdagangan antara kedua negara bakal menurun.

Hal itu jelas merugikan Indonesia sebab, seperti dijelaskan Noke, dalam kurun satu tahun terakhir, volume perdagangan Indonesia-Australia mencapai Aus$ 9 miliar. Dari jumlah ini, Indonesia mengalami surplus perdagangan Aus$ 1 miliar. "Berarti kurang lebih kita (Indonesia) ekspor Aus$ 5 miliar dan kita impor dari mereka (Australia) Aus$ 4 miliar," katanya di Jakarta kemarin.

Menurut Noke, ada kemungkinan transaksi bisnis yang sudah disepakati pun ada yang dibatalkan. Mengenai nilainya, ia mengaku belum tahu persis. "Masih terlalu dini," ungkapnya. "Baru satu minggu (setelah ledakan)."

Kerugian lainnya, ia menambahkan, beberapa calon investor terpaksa menangguhkan rencana menanamkan modal di Indonesia karena situasi keamanan di Tanah Air dinilai belum kondusif.

Indikasi itu terlihat dari batalnya sejumlah investor Australia untuk menghadiri pertemuan pengusaha kedua negara. "Biasanya pertemuan ini dihadiri 200 orang," katanya. "Ada beberapa yang mau datang, tetapi tidak jadi."

Keprihatinan serupa diungkapkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Investasi Chris Kanter. Ia menjelaskan, para investor yang menunda investasinya adalah para pebisnis baru yang sebelum ledakan bom menilai Indonesia tempat yang cocok untuk berinvestasi. "Saya harap persentasenya kecil," katanya "Tapi pasti (tragedi) ini akan semakin mengurangi investasi yang masuk."

Di sisi lain, Christ yakin investor yang sudah lama berbisnis di Indonesia tidak akan terlalu terpengaruh aksi teror itu. Meski begitu, untuk memulihkan kepercayaan investor, menurut dia, setidaknya butuh waktu sekitar satu tahun.

Noke mengatakan, para pelaku usaha Australia kini masih menunggu perkembangan lebih jauh atas penanganan kasus bom ini, meski pada umumnya penduduk negeri itu cukup memahami situasi di Indonesia mengingat letaknya yang cukup dekat secara geografis.

Menurut Noke, informasi itu sangat penting karena, jika situasi di Indonesia dirasakan sudah kondusif dan dinilai cukup aman, perdagangan antara kedua negara pun akan kembali berjalan normal. "(Keamanan) ini sangat penting," tuturnya, "karena orang mau masuk gedung saja jadi takut kalau ada bom."

Muchamad Nafi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: