Produksi Minyak Mentah Belum Penuhi Target APBN-P 2004
Jum'at, 17 September 2004 | 18:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Produksi minyak mentah Indonesia tahun ini belum memenuhi target Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2004 yang sudah ditetapkan. "Setiap harinya harus ada tambahan produksi minyak mentah sebesar 97 ribu barel per hari, di luar produksi rutin 1,072 juta," kata Deputi Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), Trijana Kartoatmodjo di Jakarta, Jum'at (17/9). Padahal, tahun anggaran akan segera berakhir.
Menurut Trijana, kekurangan minyak itu dikarenakan kondisi beberapa lapangan yang memang sudah tua, sehingga volume produksi mengalami penurunan. Saat ini, rata-rata volume produksi minyak Indonesia hanya 1,048 bph. "Itu berarti setiap harinya kita kekurangan produksi sekitar 24 ribu barel," katanya.
Sejauh ini, kata Trijana, pemerintah belum berencana meningkatkan volume impor minyak mentah dari luar negeri. Pemerintah berupaya menggenjot produksi agar target bisa tercapai. BP Migas sudah meminta sejumlah kontraktor bagi hasil (KPS) untuk mengoptimalkan produksi minyak di lapangan-lapangan yang dikelola. Beberapa lapangan baru juga diminta untuk segera dioperasikan untuk meningkatkan volume produksi.
Trijana menyebutkan ladang migas baru yang bisa diharapkan, diantaranya lapangan Oseil di Ambon yang dioperasikan oleh perusahaan migas asal Kuwait, Kufpec, lapangan West Betara dan West Piano di Sumatera Selatan dan North East Salawati di Papua yang dikelola oleh Petrochina. BP Migas juga meminta optimalisasi produksi minyak dari lapangan Tambora di Kalimantan Timur yang dikelola Total Fina Elf, lapangan Likan dan Kelok di Riau yang dikelola Caltex Pasific Indonesia, lapangan Belanak di Natuna yang dioperasikan ConocoPhilips, dan lapangan Kaji di Sumatera Selatan yang dioperasikan Medco Energi.
"Pemenuhan target produksi minyak nasional itu sangat penting, karena sudah diperhitungkan dalam anggaran keuangan tahun ini. Besar kecilnya volume produksi akan berdampak pada arus kas negara. Jika target tidak terpenuhi, BP Migas yang akan ditagih Departemen Keuangan," kata Trijana.
Kekurangan angka produksi minyak mentah tersebut juga dikhawatirkan akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri. Berdasarkan catatan Pertamina, rata-rata kebutuhan BBM nasional sebesar 172.415 KL per hari. Kebutuhan terbesar adalah solar 72 ribu KL per hari, premium 44 ribu KL per hari, dan minyak tanah atau kerosin 32 ribu KL per hari. Kebutuhan tersebut sebagian besar dipenuhi dari produksi kilang dalam negeri sebanyak 75 persen atau 130 ribu KL per hari. Sisanya, sekitar 25 persen atau 40 ribu KL per hari atau 1,2 juta KL per bulan diimpor dari luar negeri.
Retno Sulistyowati - Tempo





